BLORA Respon masyarakat Blora untuk ‘bermitigasi’ menanam padi dari anorganik ke organik mulai besar. Hal ini terlihat, sebaran petani yang menanam padi oragnik di kabupaten yang dijuluki “Kota Samin” itu makin meluas.

Hanya sayang, antusias yang tinggi itu, tidak berbanding lurus dengan hasil peras keringat yang dikeluarkan. Karena produk pertanian yang mereka hasilkan yaitu beras organik masih belum banyak diterima masyarakat. Tak pelak, cuan yang diperoleh dari hasil bertani padi organik itu pun belum menggembirakan.

Tak hanya pasar yang belum meresponya, tapi juga stigma minir dari kalangan petani sendiri sering diterima oleh para petani padi organik.

Bambang Sadono sedang menerima curhatan Imam (35) salah seorang petani padi organik Desa Keser, Kecamatan Tunjungan Blora.

Kondisi timpang petani padi organik itu, mendapat respon positif Bambang Sadono, tokoh publik kelahiran Blora (62 th). Di sela-sela kunjungananya di Blora (4-5 Juni 2022) lalu, wartawan senior kelahiran Dukuh Jambangan, Kec. Tunjungan Blora, ‘turun gunung’ memui para petani padi organik tersebut.

Di Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, Blora, wartawan senior yang mantan anggota DPR RI dan DPD RI itu bertemu dengan Slamet (45), sedang di Desa Keser, Kecamatan Tunjungan, dia bertemu dengan Imam (35).

Kedua petani padi organik itu mengungkapkan curhatan hatinya sekitar suka dukanya menjadi petani padi organik. Baik Slamet maupun Imam mengatatakan, persoalan terbesar yang dihadapi petani padi organik adalah pasar yang masih minim menyerap beras hasil panennya.

“Pasar beras organik masih terbatas. Biasanya dibeli orang-per orang secara induvidu. Per Kg.nya Rp.8-10 ribu. Kebanyakan pembelinya dari komunitas jami’ah NU, ” papar Slamet yang sehari-hari berkarir sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta di Wedo, Kedungtuban.

Karena masih adanya keterbatasan penyerapan pasar beras organik, Slamet mengaku belum berani menambah luas tanaman padi organiknya. Dari lahan sawah yang dia miliki, Slamet bisa memanen padi organiknya 5- 9 kwintal, sekali masa panen. Satu tahun dia bisa penen dua-tiga kali.

Bambang Sadono yang didampingi Padmasari Mestikajati Anggota DPRD Provinsi Jateng saat menemui Slamet petani padi Organik di Desa Wedo, Kec. Kedungtuban, Blora

Hal yang sama juga diungkapkan Imam petani padi organik dari Desa Keser, Kecamatan Tunjungan. Selain serapan pasar yang masih minim, juga ketersidiaan air di sawah sering jadi kendala untuk penaman padi organik.

“Masyarakat luas belum bisa menyakini beras organik, karena tak ada jaminan sertifikasi. Itu kendala besarnya. Pada hal untuk harga jual, serta kemanfaatannya, beras organik memiliki banyak keunggulan. Yang jelas, bermanfaat besar bagi kesehatan” papar Imam yang mengaku sudah tiga tahun menanam padi organik.

Persoalan ketersedian air di sawah, dikatakan Imam juga jadi faktor penting pendukung kelangsungan tanaman padi organik di lahan sawah yang dimiliki petani.

” Selain mengandalkan air tadah hujan, petani juga sangat tergantung air dari saluran irigasi dari waduk Tempuran yang dikelola oleh Dinas Pertanian Blora. Kalau Dinas Pertanian, tak mengalirkan air, ya petani tak dapat air’ ” terang Imam.

Bantu Pemasaran

Mendengar keluhan para petani padi organik tersebut, Bambang Sadono sangat peduli. Ia pun mengatakan akan membantu mencarikan solusi, khususnya dalam hal pemasaran. Dengan jaringan yang dimiliki, politukus Partai Golkar Jawa Tengah ini akan membantu para petani padi organik Blora.

“Keluhan petani padi organik ini, harus cepat dicarikan solusi. Agar mereka (para petani) tidak merasa kecil hati karena kurang diperhatikan. Sebab keberaniannya beralih menanam padi anorganik menjadi organik, sebuah perjuangan yang tidak mudah”, jelas BS.

Selain secara pribadi dia akan membantu pemasaran, BS juga akan mengajak teman-temanya politisi Golkar di DPRD Blora untuk turun langsung mencarikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi para petani padi organik di Blora tersebut.

Sekadar mengingatkan gerakan tanam padi organik di Blora, awalnya dicetuskan oleh Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Jawa Tengah. Pertanian padi organik dirasa lebih menguntungkan petani, dan lebih sehat dikonsumsi.

Di Blora Panen perdana padi organik dilakukan oleh Bupati Blora Arief Rohman dan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah, LPPNU, dan PCNU Blora di areal persawahan Desa Sonokidul, Kecamatan Kunduran, Jumat (18/2/2022). (GUN/FEB/01)