SEMARANG – Stigma yang berkembang di masyarakat, dimana kusta disebabkan penyakit keturunan, kutukan, hingga balasan atas dosa yang tak bisa disembubkan menjadi persoalan tersendiri dalam penangananya selama ini. Menyikapi hal tersebut, Rumah Sakit (RS) Kusta Donorojo, Kabupaten Jepara, menjelang peringatan hari kusta sedunia, melakukan pelatihan kepada 30 peserta dari tiap kabupaten/kota di Jateng guna mencapai target eliminasi kusta di wilayahnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Perawatan Khusus Rumah Sakit Kusta Donorojo, Joko Winarno, mengatakan penyakit kusta dinilai kurang eksotis bagi kebanyakan pihak. Artinya, tidak masuk program prioritas layaknya angka kematian ibu/bayi (AKI/AKB) dan stunting bagi pemangku kebijakan terkait.

“Saya melihat, barangkali ini juga kelemahan program (aturan). Kenapa? Kusta itu bukan program yang posisinya prioritas. Karena kalau sudah prioritas, pasti ada pemerhati dan fungsi kontrol dari pemerintah maupun swasta,” kata Joko di RS Kusta Donorojo, Jumat (27/1/2023).

Sebab itu, lanjut Joko, peringatan hari kusta sedunia pada 2023 ini bertemakan “Act Now: End Leprosy”. Yakni untuk mengingatkan sesama akan kepedulian terhadap penyakit kusta dan mewujudkan Jateng bebas kusta.

“Meningkatkan kepedulian, akan penyakit kusta yang masih terabaikan. Maka dari itu, semboyang kami di kesehatan, boleh kusta, tapi jangan ada cacat. Artinya begitu ada temuan, segera obati, agar sembuh dan tidak telat deteksi dini. Maka jangan takut, malu, atau lainya. Masyarakat juga jangan gampang memberi label buruk,” pintanya.

Joko pun menegaskan, penyakit kusta bukan penyakit yang tidak bisa disebuhkan atau membahayakan. Penyakit tersebut tetap bisa disembuhkan, asalkan tak terlambat dalam diagnosa dininya.

“Kusta ini tidak menimbulkan kematian secara langsung. Tapi rata-rata kematian karena penyakit lain. Tapi paling ditakuti orang dari penyakit kusta ini, adalah kecatatan. Begitu kusta, identik cacat. Maka dari itu, ayo masyarakat lebih peduli, segera lakukan pemeriksaan bila ada tanda-tanda, dan segera laporkan bila ada yang mengalami tanda-tanda,” pungkasnya.

Tanda-tanda tersebut, imbuh Joko, seperti bercak putih di kulit hingga munculnya bentolan pada kulit. Menurutnya, bila mendapati tanda-tanda itu, ada baiknya segera melakukan diagnosa dini di Pukesmas terdekat, untuk memastikan apakah benar-benar positif kusta.

“Permasalahanya, karena butuh waktu lama dan butuh waktu juga untuk mengerti. Kadang petugas kita sudah curiga ada warga yang terkena kusta, tapi karena belum reaksi, enggak percaya, menghindari, malu, dan malah enggak segera memeriksakan diri ke Puskesmas. Padahal, reaksi kusta sendiri bisa tiga sampai 10 tahun. Kalau sudah bertahun-tahun, itu sudah telat diagnosa dan kebanyakan sudah cacat,” imbuhnya.

Sekadar informasi, pada perayaan hari kusta sedunia 2023, jatuh pada 29 Januari, RS Kusta Donorojo mengaku tak akan melakukan sebuah seremonial besar-besaran. Pihaknya hanya akan meningkatkan kepedulian teman-teman kesehatan, melalui program pelatihan deteksi dini kusta.

“Pada hari kusta sedunia nanti, kita hanya akan melakukan pelatihan selama lima hari, termasuk praktik di sini (RS Kusta Donorojo). Akan ada 30 peserta dari Pukesmas di masing-masing kabupaten/kota di Jateng. Puncaknya, nanti kita juga akan hadirkan Kadinkes (Kepala Dinas Kesehatan Jateng),” tutupnya.

Sekadar informasi, Setiap pekan terakhir pada Januari, organisasi kesehatan memperingatinya sebagai hari World Leprosy Day atau hari kusta sedunia. Peringatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan penyakit kusta, dan sebagai ajang untuk menyerukan diakhirinya stigma dan diskriminasi terkait orang yang menderita kusta. (Wan)