JawaTengah.Online – Puluhan warga Kota Semarang dengan ikhlas merelakan rambutnya untuk dicukur habis atau gundul. Aksi menggunduli kepala itu, dilakukan sebagai bentuk empati dan peduli kepada anak penderita kanker yang harus berjuang untuk sembuh.
Aksi bertajuk ‘#Beranugundul’ itu, digelar oleh Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Cabang Kota Semarang, di Mall Paragon. Kegiatan tersebut, sebagai rangkaian peringatan Hari Kanker Anak Internasional yang diperingati setiap tanggal 15 Februari.
Salah seorang relawan, Asrida Ulin Nuha (42) mengatakan, selain sebagai bentuk empati dan peduli kepada anak penderita kanker, cukur gundul juga untuk mengubah stigma buruk di masyarakat. Bahwa tidak serta-merta memangkas habis rambut hanya untuk membuang sial.
“Selain bentuk kepedulian, ini sekaligus melepas stigma bahwa orang kalau gundul buang sial. Tapi ini, kalau saya (gundul) kasih keuntungan atau berkah untuk orang lain,” kata Ulin, usai melakukan aksi berani gundul.
Dorongan untuk melakukan aksi berani gundul itu, lanjut Ulin, muncul lantaran banyak kawan-kawan sekitarnya yang turut serta melakukan aksi tersebut. Selain itu, ia menilai rambut bukanlah bentuk suatu harga diri.
“Karena jika mengedukasi (mendorong) semua orang, harapan itu terlalu tinggi. Karena itu (berani gundul) kan, balik lagi ke perasaan masing-masing. Saya hanya bisa mendorong diri sendiri. Selain itu, kebanyakan orang menganggap rambut sabagai pride atau harga diri. Tapi bagi (rambut) saya, bukanlah itu. Apalagi dengan gundul, saya bisa ngasih sumbangan atau manfaat untuk orang lain, jadi kenapa tidak. Kemudian ini hanya rambut, nanti bisa tumbuh lagi,” lanjut pengelola kafe di jalan Singosari Timur itu.

Kesempatan sama, Ketua Cabang YKAKI Kota Semarang, Vita Maheswari mengatakan,aksi ini untuk mengajak setiap masyarakat agar menumbuhkan kepedulian, simpati dan empati kepada anak-anak penderita kanker. Selain itu, sebagai fasilitas untuk penderita kanker yang membutuhkan pengobatan namun tidak tercover Badan Jaminan Kesehatan Sosial (BPJS) kesehatan.
“Anak-anak yang kami bantu sekitar umur 0 samapi 18 tahun. Rata-rata yang mereka derita kanker darah, kanker mata atau retinoblastoma, kanker tulang dan kelainan lainnya juga. Meski sudah berjalan lima tahun, ini masih menjadi PR (pekerjaan rumah) besar, karena 51 persennya belum tertolong,” pungkas Maheswari.
Diketahui, YKAKI mencatat total sumbangan yang masuk sebanyak Rp 280 juta. Jumlah tersebut dinilai masih bisa terus bertambah. Sebab, donasi tersebut tetap dibuka tanpa batas waktu.

Para donatur berasal dari sejumlah pihak baik perorangan maupun instansi. Total ada 54 donatur yang terlibat. Ada yang menyumbang langsung di acara. Tapi lebih banyak yang langsung transfer ke rekening BCA 0093435777 atas nama Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).
“Hasil donasi kita gunakan untuk operasional rumah singgah kita, kebutuhan harian, bantuan obat yang tidak tercover BPJS dan lain-lain. Donasi ini juga masih dibuka sampai kapanpun, tidak harus pas event ini saja ” tutup Maheswari. (Wan/JT02)
