JawaTengah.Online – Ada yang menarik mata saat mengunjungi Kota Lama Semarang pada pekan kedua bulan April 2022 ini. Yakni pertunjukan seni budaya Wayang On The Street yang digelar di panggung Oudetrap.

Penyelenggaraan pertunjukan yang bekerja sama dengan Ngesti Pandawa ini, menampilkan lakon Gatot Kaca dan dilanjutkan dengan melakukan falshmob bersama para penonton. Bukan tanpa alasan, dipilihnya karakter tersebut juga sebagai bentuk mengenang sosok senior mereka. 

Sekilas, pertunjukan wayang orang memang tampak seperti sekelompok karakter yang menari, namun terdapat bumbu dialog yang menghiasi tiap rangkaian koreografinya. Mereka pun dilengkapi atribut layaknya Gatot Kaca lengkap dengan sayap, selendang hingga gambar bintang di dadanya. 

Pertunjukan dimulai sedari pukul 20.15 WIB ini, menggambarkan kisah Gatot kaca dengan beragam warna yang sedang jatuh cinta kepada sosok wanita bernama Pergiwa. Disini, para lakon yang memiliki nama lain Suryanarada itu, terbagi menjadi empat warna dan memiliki karakteristik masing-masing.

Tidak sampai di situ saja, terdapat tujuh anak yang turut memerankan tokoh dengan slogan otot kawat tulang besi tersebut. Bahkan penampilan mereka tak kalah bagus dari para lakon dewasa. Terlihat dari koreografi yang mereka peragakan dapat mencuri perhatian ratusan mata pengunjung yang menonton kala itu.

“Lakon Gatot Kaca ini, tentang pementasan nostalgia dalam senja. Yaitu ada seroang senior kami (Ngesti Pandawa) diwayang orang, profesor Edi Darmono, beliau itu seorang penari wayang yang sangat menginspirasi dan mendukung kami generasi muda. Jadi kehadiran anak-anak dan pertunjukan ini, sebagai bentuk regenerasi dan mengenang beliau,” kata Sutradara dan Pimpinan Artistik Ngesti Pandawa, Muhammad Harel Alzafar, usai penampilan Wayang On The Street, Jumat (8/4/2022) malam.

Terkait warna yang berbeda pada setiap lakon Gatot Kaca itu, Harel menjelaskan, menjadi simbol empat perkara sang lakon dalam mengejar kisah cintanya. Yakni mempengaruhi kondisi batin dari amarah, nafsu hingga kasih sayang sang Suryanarada itu.

“Seringnya sebenarnya kostum Gatot Kaca warna hitam, tapi beliau (Profesor Edi Darmono) sebenarnya kalau di wayang orang sejak muda membikin kostum gatot warna macam-macam. Ada hitam, merah, biru dan ungu. Padahal, lazimnya wayang  putri kalau ungu, tapi beliau bikin itu dan cocok,” jelas dia.

Kesempatan sama, seorang anak yang menjadi pementas lakon Gatot Kaca, Wahyu Tegal Rahmadan (13), mengaku sudah mendalami dunia tari semenjak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Ia menambahkan, ekspresi wajah dinilai paling sulit saat mencoba mempelajari koreografi dari lakon tersebut.

“Dari TK sudah nari, yang sering ngajarin kakak sendiri. Terus keterusan dan jadi suka tari sampai sekarang. Makanya tadi pas tampil juga enak, suka banget, seru,” pungkas anak Wahyu yang sekarang sedang duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) itu. (Wan/JT02)