JawaTengah.Online – Sebanyak 2.614 ton minyak goreng (migor) yang harusnya datang pada Senin (4/4/2022) lalu, justru sampai di Jawa Tengah (Jateng) pada Kamis (7/4/2022). Keterlambatan tersebut diakibatkan dari adanya cuaca yang kurang mendukung.

Hal itu disampaikan Direktur komersial Perusahaan Perdagaan Indonesia (PPI), Andre Tanujaya, saat ditemui awak media. Ia mengatakan, akibat faktor cuaca pengirim tersebut baru bisa diterima kemarin malam.

“Tadinya direncanakan tanggal 4 datang, cuma mungkin karena ada kendala di lapangan karena di laut, cuaca dan lain-lain. jadi kapal ini baru labuh tadi malam, pukul 22.30,” kata Andre.

Andre menyampaikan, datangnya muatan migor dari Balikpapan ini, akan ditambah lagi saat mendekati Lebaran. Sehingga, diharapkan dapat mencukupi ketersedian migor selama Ramadan.

“Beratnya 2.614 ton. Ini bisa menutupi ketersediaan minyak goreng selama 1 sampai 2 minggu maksimal. Tapi insya Allah, akan kedatangan kapal berikutnya sebelum lebaran, mudah-mudahan stok di Jateng sampai lebaran dan setelah lebaran akan tercukupi dan aman,” pungkas dia.

Direktur Komersial PPI itu juga menjelaskan, alasan pemberian migor tersebut, didasari dari laporan Satuan Tugas (satgas) pangan yang menyebutkan bahwa pendistribusian di Jateng belum merata. Bukan karena stok di Jateng yang mulai menipis.

“Tidak menipis, tadi dapat laporan dari satgas pangan, masih ada (stok) cuma tidak merata. tugas kami hadir melakukan pemerataan hingga bisa menekan harga minyak goreng yang tinggi,” terang dia.

Kesempatan sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jateng, Arif Sambodo menjelaskan, tujuan pemberian migor ini guna mencukupi distirbusin di wilayahnya. Ia Juga berharap, bisa menjadi jalan keluar atas permasalahan yang ada selama ini.

“Kami bekerja sama dengan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) untuk membanjiri, kalau dihitung, minyak di Jateng itu memang terjadi kelangkaan, tidak merata, tidak sesuai HET (Harga Eceran Tetap) sampai saat ini, maka apa yang kita lakukan ini dalam rangka membanjiri,” sebut Arif.  

Dengan adanya pemberiannya minyak goreng ini, lanjut Arif, kepada setiap kepala dinas di kabupaten atau kota untuk bisa bekerja sama dengan pihak kepolisian setempat. Yakni untuk melakukan pengecekan secara langsung hingga sampai ke pasar.

“Saya pesan kepala dinas kabupaten atau kota, dengan kami melakukan dropping ini, mereka juga melakukan pengawasan, bekerja sama dengan polres-polres setempat. Untuk berkomitmen mengawal sampai ke pasar, para pedagang terjualnya ke konsumen akhir 14 ribu per liter atau 15.500 per kg,” tutup dia. (Wan/JT02)