JawaTengah.Online  – Polemik harga dan kelangkaan minyak goreng (migor) masih bergulir sampai saat ini. Sehingga, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah masih terus menggencarkan pendistribusian migor curah ke para pedagang. Upaya yang dilakukan, yakni dengan menekan harga dan ketersediaan Migor. Pihaknya juga melakukan pendistribusian migor ke pasar tradisional.

“Sehingga orentasinya nanti, dalam jangka panjang ini, akan lebih banyak kepada distribusi minyak curah goreng ke pasar,” kata Kepala Disperindag Jateng, Arif Sambodo , Jumat (11/3/2022).

Sambodo, sapaan akrabnya, menyampaikan jika pihaknya juga sempat melakukan operasi pasar yang dilakukan di bulan Januari dengan menggelontorkan sebanyak 110 liter migor yang dibagikan kepada para pedagang pasar.

Tidak hanya itu, Sambodo juga mengatakan pada bulan Februari hingga awal Maret, pihak juga memberikan sebanyak 325.500 liter. Bahkan, sampai saat ini masih dilakukan bersama beberapa pihak.

“Kemudian semenjak tanggal 21 Februari sampai tanggal 1 Maret saya sudah mengelontorkan kurang lebih 325.500 liter dan ini sedang berjalan PT TPI dengan RNI akan melakukan distribusi pasar,” lanjut dia.

Lebih lanjut, Sambodo memaparkan bahwa pemberian minyak tersebut bukan operasi pasar. Melainkan pendistribusian yang lebih fokus pada pemberian minyak goreng kemasan sederhana kepada pedagang.

Pihaknya juga sudah menyiapkan sebanyak 24 ribu liter minyak goreng kemasan sederhana, dan minyak goreng curah. Ia juga menyampaikan juga sudah menyediakan 2.400 liter minyak goreng kemasan premium.

“Istilahnya bukan operasi pasar karena apa, sasarannya para pedagang jadi nanti akan mendistribusikan kemasan sederhana kurang lebih 24 ribu liter, kemudian ini sedang berjalan juga minyak curah kurang lebih sekitar hampir 24 ribu liter minyak curah. nantinya kemasan premium akan mendistribusikan sekitar 2400 liter,” papar dia.

Sambodo menganggap tindakan tersebut, sebagai upaya memperlancar pendistribusian hingga ketersediaan minyak goreng di pasaran. Kendati demikian, ia menilai pendistribusian tersebut guna bisa mempermudah masyarakat yang biasa berbelanja di pasar rakyat agar tidak merasa kesulitan lagi saat mencari migor.

Saat disinggung perkembangan migor di Jawa Tengah, pihaknya juga menilai belum optimal. Namun, melihat dari hasil pantauan, untuk saat ini harga sudah mulai menurun.

“Contohnya kemasan sederhana HET Rp 13.500 memang sedikit mengalami perbedaan dengan HET yang cukup banyak adalah di minyak curah kalau HET 11.500 tapi beberapa pasar ditemui masih Rp.13.500 sampai Rp.14.000,” tutup dia. (Wan/JT02)