JawaTengah.Online – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) mengapresiasi masyarakat, komunitas, serta para pegiat ekonomi kreatif yang turut terlibat dalam mendorong peningkatan ekonomi dan kemandirian warga. Antarnya dengan penyelenggaraan Pasar Ramadhan Sekarsari sebagai sarana berwisata kuliner di Kabupaten Rembang.
Melalui Wakil Gubernur (Wagub) Jateng, Taj Yasin Maimoen mengatakan, keberadaan pasar aneka takjil dan menu makanan tersebut, diharapkan dapat mengundang masyarakat Sekarsari Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang dan sekitarnya untuk berbelanja aneka kudapan sembari ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa. Menurutnya Pasar Ramadhan yang digagas Komite Ekonomi Kreatif bersama Komunitas Kreatif Rukun Mandiri Squad (KMRS), sekaligus dapat menjadi sarana berwisata kuliner bagi masyarakat selama Ramadhan.
“Pasar ini bisa sebagai media berwisata, bertemu dengan berbagai komunitas, berkumpul dan ngobrol bareng. Nanti ini bisa didorong untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata di Rembang,” kata Taj Yasin, sapaan akrabnya.
Wagub menjelaskan, Desa Sekarsari merupakan salah satu desa dampingan dari Biro Administrasi Pengadaan Barang Jasa Provinsi Jateng melalui program ‘Satu OPD Satu Desa Dampingan’. Sehingga pemerintah tidak hanya memberikan stimulus, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu berkreasi dan berinovasi menciptakan suatu usaha bersama.
Lebih lanjut, selain Desa Sekarsari, desa-desa miskin yang menjadi sasaran dampingan Pemprov Jateng di berbagai kabupaten juga melibatkan berbagai komunitas dalam melaksanakan program Satu OPD Satu Desa Dampingan, termasuk Komite Ekonomi Kreatif.
“Sehingga berbagai potensi yang ada di desa-desa kategori miskin dapat digali bersama-sama untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkas dia.
Salah seorang pegiat Komunitas Kreatif Rukun Mandiri Squad (KRMS), Ahdiat Galih mengatakan, pendirian Pasar Ramadan di Dusun Sekaraum Desa Sekarsari, bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dengan menjajakan aneka makanan setiap sore selama Ramadan.
“Pasar ini merupakan semangat dari teman-teman KRMS untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Ini juga untuk menjawab keinginan masyarakat yang ingin punya pasar, kemudian kami tergerak mendirikan pasar yang diselenggarakan setiap bulan Ramadhan,” kata Galih.
Pasar yang berlokasi di tengah pemukiman warga itu, tidak menyediakan aneka makanan ringan, minuman buatan warga, seperti aneka olahan pisang, es dawet, es buah, sosis bakar, bakso goreng, dan sebagainya, tetapi juga menampilkan tarian sufi, musik, serta beragam hiburan lain.
“Pasar yang sudah berjalan beberapa hari ini hasilnya cukup bagus dan bisa menambah pendapatan warga. Bahkan perputaran uang di pasar ini Rp 4-5 juta per hari,” jelas dia.
Sekitar 20 pedagang yang setiap sore atau sekitar pukul 16.00 mulai menjajakan dagangannya di lapak-lapak yang dihias dengan berbagai ornamen unik. Seperti lumpang kayu jadul, luku atau kayu untuk membajak sawah, serta kendi berbahan tanah liat yang dipajang di atas meja kayu kuno. (Wan/JT02)
