JawaTengah.Online – Kumandang azan terdengar, suaranya mengalun, merdu, ditambah hembusan angin dan udara segar dari pepohonan, serta aroma padi disekitar bangunan bewarna kuning kecokelatan menyerupai kapal itu, membuat siapa saja betah beribadah khusyuk di Masjid Safinatun Najah. Berlokasi di Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngalian, Kota Semarang, tempat ibadah tersebut juga dikenal dengan sebutan Kapal Bahtera Nuh.   


Siang itu, nampak puluhan pengunjung dari berbagai tempat silih berganti menadatangi Masjid Safinatun Najah, mereka terlihat berwisata sekaligus menunaikan salat maupun hanya sebatas memanjatkan doa. Meski akses dengan kendaraan umum untuk menuju lokasi terbilang masih terbatas, namun dari Kota Semarang ke lokasi masjid tidak begitu jauh. Yakni hanya 21 kilometer dengan waktu tempuh 33 menit. 

Masjid yang memiliki luas sekira 2.500 meter itu memang tepat berdiri indah di antara pepohonan rindang, sawah dan perkampungan. Selain menjadi jujukan wisatawan, tak heran apabila menjadi simbolik bagi masyarakat sekitar. Pasalnya, selama ini kerap dan bahkan banyak warga yang memanfaatkan halaman depan maupun luar Masjid sebagai tempat mencari nafkah. 

Kali pertama memasuki halaman kawasan masjid, pengunjung akan disambut pedagang kaki lima yang menjual aneka makanan dan minuman. Ada juga penjual yang menawarkan durian dan rambutan. Bahkan, terdapat penyewaan dokar dan kereta mini yang bisa diperuntukan sebagai mobilitas untuk menikmati suasana asri di sekitaran masjid kapal itu.

Bila diamati secara kasat mata, dari luar Majid Safinatun Najah memang tampak seperti kapal pada umumnya. Yakni memiliki puluhan jendela berbentuk lingkaran, pun komplit dengan buritan dan haluan. Tak heran apabila pengujung bisa langsung menemukan spot-spot foto yang instagramable.

Untuk diketahui, “masjid kapal” ini memiliki empat lantai dengan fungsi yang berbeda. Pada lantai pertama, difungsikan sebagai ruang pertemuan, tempat wudu, dan toilet. Di sini, nampak pengunjung sekedar berbaring, bersandar untuk beristirahat, hingga bercengkrama antara satu dan lainnya sembari menikmati udara yang masuk dari lubang jendela. Menaik lantai berikutnya (lantai 2), area tersebut diperuntukkan untuk tempat ibadah seperti berdoa, shalat hingga pengajian. 

Sedangkan lantai tiga, sering digunakan untuk tempat belajar mengajar baik kalangan mahasiswa, masyarakat hingga pondok pesantren. Beranjak kembali satu tangga atau lantai keempat, area tersebut sering dimanfaatkan pengunjung untuk menikmati pemandangan di sekitar Masjid Kapal. Di sana, pengunjung akan ditemani semilir angin dan pemandangan hijau yang memanjakan mata.

“Kalau penuh, kapasitasnya bisa sampai ribuan, sekitar tiga ribuan ada. Tapi sekarang karena masih pandemi jadi agak sedikit, kisaran 200 orang per hari. Kalau Minggu masih bisa sampe 500-an,” kata takmir Masjid Kapal, Sutar (67), saat ditemui di kediamannya, Minggu (17/4/2022).

Sejak kali pertama dibuka pada 2015 hingga saat ini, lanjut Sutar, masjid kapal sempat dua kali mengalami penutupan kunjungan. Yaitu dilakukan pada masa awal pandemi selama tujuh bulan. Kemudian dua bulan pada awal 2022 ini, diamana kala itu Covid-19 varian Omicron sedang merebak.

Terkait peningkatan wisatawan di bulan penuh berkah ini, Sutar mengungkapkan belum ada peningkatan signifikan. Sebab, lonjakan itu sering terjadi usai dua hari hingga satu pekan usai Ibadah Shalat Ied. Meski demikian, sampai saat ini pengunjung yang datang tak hanya kalangan domestik namun juga sudah dari luar Pulau Jawa.

”Terjauh Aceh, Kalimantan sampe sini juga ada. Makanya tempat ini (Masjid Safinatun Najah) bukanya 24 jam. Soalnya kan, kalau malam yang dari jauh baru sampai sini dan ternyata tutup, kasihan,” pungkas pria yang berumur setengah abad lebih itu. 

Mengenai pendiri Masjid Safinatun Najah itu, Sutar mengungkapkan, didirikan oleh seorang bernama Muhammad, seorang yang berasal dari Arab Saudi, tetapi sudah lama tinggal di Kota Pekalongan. Muhammad memilih membangun masjid berbentuk kapal karena terinspirasi dari kisah Nabi Nuh dan bahtera penyelamatnya. 

“Niat Abah (Muhammad) mendirikan masjid, selain untuk mewujudkan cita-citanya membangun masjid yang berbentuk kapal Nabi Nuh. Sama seperti arti Safinatun Najah, Abah ingin masjid itu bisa menyelamatkan masyarakat di sekitarnya,” ungkap dia.

Terbukti, dengan adanya keberadaan masjid itu, warga sekitar yang dulunya bekerja sebagai kuli bangunan dan petani bisa menjual makanan di sekitar masjid. Bahkan tanah-tanah di sekitar Desa Podo Rejo yang dulunya murah, kini menjadi semakin mahal.

Pedagang lapak di halaman masjid kapal, Imah menambahkan, mayoritas wisatawan yang berkunjung adalah keluarga. Tidak jarang banyak rombongan yang datang dari luar kota maupun provinsi.

“Awal tahun ini lumayan banyak, sedikitnya 200 orang ada kalau tiap hari. Banyak-banyaknya bisa sampai 500 orang malahan. Jadi memang ngak pernah sepi. Itu (wisatawan) kebanyakan pada rombongan juga,” imbuh pedangang yang sudah dua tahun menempati lapak di sana.

Seorang wisatawan luar kota Semarang, Sigit menyampaikan, ia berkunjung ke masjid kapal bersama rombongan lain menggunakan bus. Rombongan tersebut, diketahui berasal dari Kabupaten Kendal dengan membawa 50 orang penumpang.

“Saya dari Kendal, ke sini bareng-bareng satu RW (rusun warga), masing-masing bawa keluarganya sendiri juga. Tujuannya memang cuma ke sini, habis itu balik lagi (Kendal). Ini bareng-bareng rombongan pakai dua bus kecil,” kata Sigit, saat ditemui di lantai empat.

Sigit menyebut, kunjungan bersama ke masjid kapal yakni untuk menyongsong kedatangan bulan puasa yang sudah di depan mata. Selain itu, ia juga baru kali pertama berkunjung ke tempat tersebut.

“Tujuannya memang kesini saja, karena memang untuk menyambut bulan puasa besok. Terus baru ke sini juga, ternyata bagus bangunanya (Masjid), unik,” sebut dia. (Wan/JT02)