Sururi, Berdiri Gagah Sepanjang Pesisir Dengan Menumbuhkan Asa Dari Mangrove

JawaTengah.Online – Tanaman mangrove merupakan habitat penting bagi organisme kelautan dan sebagai sabuk pantai untuk menjaga dari abrasi. Karena dengan pelestarian bibit dan pohon mangrove kita dapat membantu menjaga kestabilan iklim, mencegah erosi, banjir, serta memberikan makanan dan tempat tingal bagi hewan. Untuk itu, diperlukan upaya pelestarian dan perawatan terhadap pohon mangrove. Sururi (63), menjadi contoh nyata yang berdiri gagah menjaga salah satu pesisir pantai Kota Semarang dengan menantang abrasi tersebut.

Berawal dari  kegelisahannya terhadap garis pantai dan batas kampung di Desa Mangunharjo yang tadinya 1,6 kilometer hanya tersisa 500 meter dalam kurun waktu 1990 sampai awal 2000-an. Menetaslah pemikiran untuk menanam bakau sebagai upaya menyelamatkan lingkungan, tambak garapannya, sekaligus rumah yang menjadi satu-satunya harta yang ia punya.

“Jadi awalnya itu saat tambak saya mulai hilang total. sekitar tahun 1995-an. Pas tahun itu sudah tidak punya harapan lagi untuk punya tambak. Tapi saya berfikir, kalau tidak melakukan sesuatu, ini bisa menghilangkan rumah saya juga. Nanti keluarga saya gimana? Terus saya harus ke mana kalau rumah saya tenggelam?,” tanya Sururi sembari menceritakan kisah perjalananya.

Perjalanan yang dipilih Sururi untuk membuat benteng di kawasan pesisir ini juga penuh tekanan. Pasalnya, selain mendapat cemooh dari warga setempat ia juga sempat diejek oleh rekan-rekan sesama petambak yang memilih menjadi nelayan, pengojek, buruh bangunan dan buruh pabrik usai sebagian tambak hilang. Meski demikian, perjuangan  dalam melestarikan, menanam dan merawat selama ini tidak menghianati konsistensinya.

Masih mengenang masa-masa perjalanannya, Sururi mengaku mulai menanam bakau saat ia bertemu dengan pakar lingkungan dari Universitas Diponegoro (Undip), Sudharto P Hadi. Pertemuannya dengan guru besar itu menjadikan ia dibimbing dalam menanam bakau tersebut. Kemudian, seiring berjalanya waktu, melalui Kelompok Subur Makmur yang ia dirikan bersama rekan-rekan, upaya konservasi lingkungan mulai menampakkan hasil pada 2007 lalu.

“Dari sepanjang perjalanan itu, kita sangat terbantu dengan adanya CSR (program tanggung jawab perusahaan). Karena mereka (CSR) yang membeli bibit untuk ditanam. Kemudian semakin ke sini, selain perusahaan yang menjadi mitra, ada juga mahasiswa, peneliti, pemerintahan termasuk orang luar negeri juga,” terang Sururi yang juga akrab dijuluki Profesor Mangrove.

Hingga kini, diketahui Sururi memiliki lima jenis bibit tanaman mangrove yang berhasil dilestarikan. Antaranya jenis Rhizophara, Bruguiera, Avicenia, Xylocarpus dan Sonneratia. Konsistensinya dalam melestarikan bibit-bibit tersebut, telah membuatnya berhasil mengembangkan hingga jutaan. Dari jutaan bibit itulah banteng alami mangrove yang menjadi sabuk pantai kembali terbentuk dengan luas sekitar 70 hektar. Sedangkan mengenai ketinggian yang dihasilkan beragam tergantung berapa tahun pertumbuhanya, namun ada yang mencapai 10 meter dalam kurun waktu 20 tahun.

Saat berkesempatan diajak berkeliling di lahan pembibitannya di Desa Mangunharjo, mata Sururi terlihat memandang lekat satu demi satu bibit pohon bakau yang telah ia rawat. Ia mengamati secara seksama pertumbuhan bibit-bibit bakau yang telah ditanam ahir tahun lalu. Bahkan saat memandang bibit pohon bakau yang mulai tumbuh belum satu meter itu, senyum tipis dari bibirnya muncul seakan menggambarkan ekspresi orangtua yang senang melihat anaknya tumbuh dengan sebaik-baiknya.

“Kegiatan saya kalau pagi ya begini mas. Ngecek kondisi bibit dan mengambil tangkai bibit yang jatuh dari mangrove yang sudah tumbuh. Soalnya ini kan (tangkai bibit dari pohon mangrove) bisa ditaman kembali selama pucuk atasnya ini tidak rusak. Tapi walau cuma begini saya menikmati dan senang melakukanya,” jelasnya saat ditemui di lokasi pembibitan.

Dari hasil pembibitan dan pohon mangrove yang ditanam secara konsisten, Sururi menyebut hasil yang didapat salah satunya adalah menahan laju abrasi paling tidak di tiga kelurahan. Yakni Mangkang Kulon, Mangunharjo dan Mangkang Wetan. Manfaat lainnya kini ekosistem laut dapat terjaga dan nelayan tidak perlu jauh-jauh mencari tangkapan.

“Meski sudah ada hasil, presentase kehidupan mangrobe itu juga tidak besar. Hanya 60 persen yang berhasil selamat. Makanya perawatan dan penanaman secara konsisten setiap bulan minimal dua kali 500 bibit itu diperlukan. Jadi ketekunan dan tenaga sangat dibutuhkan untuk menjaga pesisir pantai di daerah Semarang ini,” pungkas Sururi.

Meski demikian, ke depanya Sururi berharap bakau di daerah Mangunharjo bisa semakin berkembang. Mengingat ekosistem yang sudah mulai terbentuk seiring berjalannya waktu. (Wan/JT02)