JawaTengah.Online —- Film dokumenter sering dianggap sekadar karya audiovisual yang merekam kenyataan. Namun, bagi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP, film dokumenter adalah jendela untuk membaca dunia sekaligus alat pemberdayaan yang mampu menggerakkan masyarakat. Keyakinan inilah yang menjadi landasan dalam menyelenggarakan International Community Service 2025 dengan tema “Documentary Film Production for Local Film Communities”.
Kegiatan yang berlangsung pada 2–4 Agustus 2025 lalu di Laboratorium Multimedia FISIP UNDIP, Tembalang, ini menghadirkan wajah-wajah muda dari berbagai latar belakang, yakni, pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, hingga komunitas film lokal di Semarang. Mereka datang dengan rasa ingin tahu yang besar, membawa kisah dan keresahan masing-masing, lalu bertemu dalam satu ruang belajar yang sama yaitu film dokumenter.
Menghadirkan Perspektif Global
Atmosfer internasional semakin terasa dengan kehadiran Dr. Dag Yngvesson, akademisi sekaligus praktisi film dokumenter dari University of Nottingham Malaysia yang tentunya berpengalaman dalam proyek-proyek film berbasis komunitas di Asia Tenggara. Dalam setiap sesi workshop, Dr. Dag menekankan pentingnya film sebagai jembatan untuk memahami realitas sosial.
Hari pertama dimulai dengan fondasi: bagaimana merumuskan ide, menyusun narasi, dan melakukan pra-produksi. Hari kedua, bergerak lebih teknis, mengajarkan keterampilan mengambil gambar, menyusun alur cerita, hingga menyunting materi menjadi sebuah karya utuh. Pada sesi ini seluruh peserta diberi kesempatan untuk secara langsung mempraktekkan penggunaan
Selama tiga hari penuh, para peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memegang kamera, berdebat tentang ide, hingga mencoba menangkap realitas di sekitar mereka. Hasilnya, lahirlah film-film pendek dokumenter yang mencerminkan keresahan lokal: mulai dari isu kesehatan mental, institusi, budaya, hingga potret kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi Akademisi dan Praktisi
Kegiatan ini merupakan hasil kerja kolektif tim dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP yaitu Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistiyani, Dr. Lintang Ratri Rahmiaji, M. Bayu Widagdo, M.I.Kom., Irawati Sri Wulandari, M.I.Kom., serta Naomi Putri Bahari Simeon, M.I.Kom. Mereka merancang program ini agar seimbang: kuat dalam teori, tetapi tetap aplikatif dan dekat dengan kebutuhan komunitas.
Dalam penutupan acara, peserta mempresentasikan hasil film mereka dan menerima masukan dari para pengajar maupun rekan-rekan lainnya. Sesi ini menjadi momen reflektif, di mana film tidak lagi sekadar tugas pelatihan, melainkan media berbagi pengalaman.
Menyuarakan SDGs Lewat Film
Menurut Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistiyani, Ketua KBK Media, Budaya, dan Gender, kegiatan ini adalah langkah strategis dalam mendekatkan isu-isu Sustainable Development Goals (SDGs) kepada masyarakat.
“Harapannya, film dokumenter bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan SDGs dalam bahasa yang lebih membumi, melalui karya-karya komunitas film lokal,” ujarnya.
Lewat International Community Service 2025, UNDIP sekali lagi menegaskan perannya sebagai institusi yang tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga turun langsung ke masyarakat. Film dipilih karena kekuatannya dalam menyatukan ekspresi kreatif dan pesan sosial.
Dari tangan para peserta muda, diharapkan lahir dokumenter-dokumenter baru yang mampu menggugah kesadaran, memperkuat literasi media, sekaligus memperluas percakapan tentang pembangunan berkelanjutan. Bagi UNDIP, ini bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan investasi sosial untuk masa depan komunitas lokal.
