Jawatengah.Online – Meski pandemi Covid-19 telah membatasi ruang lingkup gerak sektor Usaha Kecil Menengah (UMK). Hal itu tidak semerta-merta membuat pelaku usaha kehabisan ide. Home Industri Kue, Foodstalls Semarang misalnya, justru berinovasi di saat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sering menghantui.


Inovasi tersebut yang membuat Foodstalls Semarang ini mampu bersaing dengan industri bakery ternama lainnya. Pasalnya, ciri khas yang dimiliki home industri yakni rasanya yang bintang lima namun harga kaki lima.

 
Owner Foodstalls Semarang,  Kurniasari Rahmawati mengatakan, usahanya tidak hanya memproduksi donat saja, melainkan berbagai kue atau lebih ke bakery. Dalam menjalankan usaha, ia bersama saudara perempuanya. Usaha tersebut, bertempat di kediamannya yang berada di Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Secara pemasaran, Foodstalls Semarang lebih cenderung menggunakan media online.

keterangan: Kurniasari Rahmawati


“Usaha saya tidak donat saja, lebih ke toko kue. Kami masih memproduksi dari rumah belum memiliki store, dan pemasarannya juga masih online. Cuma  ada produk lain, kayak  bikin  kue kering, pizza, dan bolu. Intinya  lebih ke bakery, sih, ” kata Kurniasari Rahmawati,  Jumat (25/2/2022).

Kurniasari membeberkan, ciri khas home industri miliknya yakni pembeli bisa cash on delivery (COD). Meskipun produknya terkesan premium, namun rasanya setara dengan toko kue ternama. Bahkan, harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau. 

“Kelebihannya ya COD, sama harganya terjangkau. Kalau aku pribadi menilai produksi adalah makanan premium dengan harga murah. Misalnya, donat satu box harganya 30 ribu. Itu kan bisa makan setara dengan brand yang dibeli satu box nya 60 ribu, ” terang dia.

Kendati demikian, Kurniasari mengaku usahanya masih memiliki kekurangan, seperti tidak mempunyai toko offline, hanya mengandalkan pre-order. Akibatnya, konsumen harus menunggu jika hendak beli produknya. Namun, ia yakin produknya mampu bersaing di pasar global melalui kualitas yang sebanding dengan brand kue besar dan ternama.

keterangan: salah satu cake kreasi Foodstalls Semarang

“Kekurangannya tidak mempunyai store, masih sistem pre order. Kadang, setiap konsumen yang beli harus menunggu. Tapi saya yakin, usahanya bisa bersaing rasa dengan bakery ternama. Homemade kita dijamin kualitasnya, harga segitu bisa makan roti bintang lima, ” terang dia.

Mengenai konsumen, Kurniasari menambahkan, selama ini pembeli yang kerap memesan produknya yakni kalangan pelajar dan ibu-ibu. Menariknya, ia membuat produk baru khusus untuk pelajar.

“Seringnya pelajar dan ibu-ibu. Kita juga open PO, mini cake buat pelajar dengan harga minim. Sedangkan, partai besar hanya skala hajatan di angka 200 pcs, ” imbuh dia.

Mengakhiri obrolan, lanjut Kurniasari, dalam sebulan omzet yang berhasil diraup sebanyak 4 sampai 5 juta rupiah. Namun, jika lebih giat berwirausaha, kata dia, omzet yang didapat bisa lebih .

“Sebulan naik turun, dua bulan terakhir kotornya bisa 4-5 juta. Ini soale gak fokus  sibuk kuliah, kakak saya kerja. Jadi produksinya sore. Terpenting, pemasaran online jangan takut nggak laku. Dan usahakan treat semaksimal mungkin pada konsumen, membalas chat, posting produknya. Terus promosi, laku atau tidak, ” tutup dia. (Wan/JT02)