JawaTengah.Online – Petani Jawa Tengah (Jateng) sedang menikmati berkah pada penghujung tahun 2021 kemarin. Pasalnya, Nilai Tukar Petani (NTP) Jateng pada Desember 2021 mengalami kenaikan sebesar 1,84 persen dari yang sebelumnya November hanya 101,34 poin.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, Adhi Wiriana, melalui keterangan tertulis. Sedangkan secara umum, NTP Jateng tahun 2021 pada Desember berada di angka 103,18 poin.
“Indeks harga yang dibayar petani, pada tahun 2021 NTP Jateng Bulan Januari sampai Desember mengalami fluktuasi (naik turun harga). NTP tertinggi tahun 2021 terjadi pada bulan Desember sebesar 103,18 sedangkan NTP terendah pada bulan April sebesar 98,71,” kata Wiriana.
Jika melihat dari keseluruhan Provinsi pada Pulau Jawa, berdasarkan data BPS pusat, NTP Jateng masih menduduki peringkat teratas dengan angka 100,37 poin. Meski demikian, perlu jadi catatan bahwa angka tersebut masih berada di bawah angka rata-rata nasional dengan posisi 108,34 poin.
Selain perkembangan NTP Jateng, Wiriana menjelaskan, inflasi perdesaan yang menunjukkan perubahan harga barang dan jasa pada tingkat perdesaan juga mengalami kenaikan. Yakni 2,92 persen pada Desember 2021 jika dibanding Desember 2020 lalu.
“Sedangkan perkembangan NTP Jateng Desember 2021 terhadap Desember 2020 mengalami peningkatan 1,65 persen,” jelas Wiriana
Lebih rinci, berdasarkan data yang dirilis, perubahan NTP Jateng tertinggi dialami petani hortikultura (budidaya tanaman kebun) dengan kenaikan 7,34 persen dibandingkan November 2021 kemarin. Sebab, pada Desember 2021 itu, sub-sektor tersebut berada pada posisi 107,35 persen yang dimana indeks tersebut mengalami pertumbuhan dari yang sebelumnya 100,01 persen pada November 2021.
Selain sektor budi daya tanaman kebun, kenaikan harga pada beberapa komoditas lain turut mengerek kenaikan pendapatan petani Jateng. Setidaknya, pada Desember 2021 kemarin, BPS Jateng mencatat kenaikan harga pada sektor komoditas tanaman pangan, perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan juga mengalami kenaikan.
“Secara konsep NTP juga menunjukkan daya tukar dari harga-harga produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani,” tutup Wiriana. (Wan/JT02)
