JawaTengah.Online – Tidak bisa dipungkiri kenaikan harga Bahan Bakan Minyak (BBM) jenis Pertamax turut mempengaruhi sejumlah komoditas pangan. Salah satunya bagi para pedagang sayur keliling.

Berbekal mobil pick up warna biru tua,  Sarudi (52), kini terpaksa berhenti di satu tempat, usai pemerintah menaikan harga bahan bakar untuk mesin kuda tuanya itu. Pasalnya, ia merasa resah dengan imbah dari kenaikan BBM non subsidi tersebut.

“Sekarang mangrok (ngetem) di Sampangan aja. Dekat-dekat Masjid sama perkampungan. Karena kalau muter-muter boros bensinya. Soalnya kan naik,” kata Surudi, disela-sela menata dagangannya. 

Bahkan untuk mensiasati kenaikan tersebut, terkadang Sarudi harus beralih mengisi pertalite apabila dagangan yang ia bawa sering tidak habis. Terlebih, omset yang didapat juga menurun hingga 20 persen karena sayuran-sayuran yang dipasok mengalami kenaikan.

“Susah sekarang, semenjak naik (BBM) ngak berani ngisi Pertamax terus, mahal. Terus sayuran juga pada ikut naik juga, dari Rp 1 Ribu sampai Rp 3 Ribu naiknya. jadi omset juga terpengaruh. Biasanya bisa Rp 1 Juta sekarang jadi Rp 800 Ribu,” pungkas lelaki yang sudah 10 tahun berjualan sayur keliling itu.

Lebih jauh, Sarudi menceritakan, saban hari selalu membawa dagangan tersebut dari rumahnya di kelurahan Jabungan, kecamatan Banyumanik, kota Semarang dari pukul 00.00 WIB. Menjelang subuh, ia akan berhenti di  wilayah Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, hingga matahari hampir terbit, lalu keliling di sekitaran wilayah itu.

Senada, Bayu Setiaji (23) yang ditemani motor supranya menambahkan, harga BBM naik memang mempengaruhi dagangannya. Namun, kenaikan tersebut dirasa masih taraf aman.

“Memang ikut naik (sayuran). Tapi kalau saya dari awal pakai yang subsidi (pertalite), selama itu (subsidi) belum naik, harga sayuran saya masih aman. Kalau naik (subsidi), baru terasa nanti,” imbuh Bayu.

Terpisah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhamadiah Semarang, Hardiwinoto turut membenarkan dengan adanya dampak kenaikan pada sejumlah komoditas pangan termasuk sayur-sayuran. Bahkan, hal tersebut juga bisa memunculkan inflasi apabila tidak segera dikendalikan.

“Komoditas seperti sayuran jelas akan ikut inflasi (naik). Karena BBM itu faktor utama sebagai cost inflasion. ketika kenaikan biaya ada, maka semua yang diangkut transportasi akan ikut naik,” jelas Hardi, saat dikomfirmasi melalui sambungan telepon. (Wan/JT02)