JawaTengah.Online – Pandemi Covid-19 benar-benar menggerus para pengusaha angkot di Kota Semarang. Pasalnya, angkutan transportasi masyarakat kota itu kini menurun drastis hingga 50 persen lebih.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang, Bambang Pranoto Purnomo, mengatakan peredaran angkot sebelum pademi masih di angka 2.380-an. Namun, seusai dua tahun pandemi melanda, peredaran di Kota Semarang kini hanya 890-an.
“Tahun 2018 sebelum pademi, masih ada sekitar 2.380 sekian. Artinya apa, angkot ini masih dibutuhkan masyarakat Kota Semarang dengan jumlah yang sangat banyak itu. Tapi semenjak pademi, sektor transportasi betul-betul terdampak luar biasa, sekarang ini database kami (Organda), angkutan itu tinggal 890-an,” kata Bambang saat dikomfirmasi, Senin (11/7/2022).
Tak hanya angkutan kota, pandemi juga disebut menjadi penyebab hilangnya bus bumel atau kepanjangan dari melbu kumel. Padahal, sebelumnya bus untuk kelas ekonomi atau sebutan untuk bus non air conditioner (AC) dengan rute trayek pendek itu sempat mati suri pada 2012 dan kini peredarannya disebut telah lenyap.
“Kemudian benar-benar mati atau hilang dari peredaran tahun 2020. Sebelumnya masih nampak beberapa. Untuk kejayaanya, pada era 80 sampai 90-an,” beber dia.
Melihat fenomena tersebut, Bambang berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dapat turut serta membangkitkan geliat angkot. Yakni melalui kerjasama program bernama Jalenko yang digagas Organda.
“Menolong dengan cara apa? Yaitu dimana Organda sudah mengajukan program seperti Jalenko. Dimana angkot melayani di trayek Semarang pinggiran dengan Feedernya. jadi terindikasi feeder dan trans-Semarang,” tutup dia. (Wan/JT02)
