JawaTengah.Online – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menjadi salah satu wilayah yang mempelopori transisi penggunaan energi fosil menjadi energi baru terbarukan. Khususnya pada masa kepemimpinan Ganjar-Taj Yasin, Jateng terus mengampanyekan penggunaan energi baru terbarukan seperti PLTS.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng, Sujarwanto, saat mendampingi Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/8/2022). Ia mengatakan, Jateng memiliki tekat untuk mencapai solar provance. 

“Provinsi yang basis energinya banyak-banyak dari matahari. Kenapa ini duluan yang dicanangkan oleh beliau-beliau, pimpinan kita di Jateng karena ternyata matahari itu energi gratis,” kata Sujarwanto.

Sujarwanto menyampaikan, hingga saat ini di Jateng memiliki pembangkitan listrik dari PLTS hingga mencapai 300 megawatt. Menurutnya, capaian ini lantaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di tingkat provinsi maupun kabupaten atau kota didorong untuk menggunakan PLTS.

Lebih lanjut, banyak sektor industri juga mengikuti kampanye Jateng Solar Province yang dicanangkan. Gerakan tersebut, diawali dengan pembangunan PLTS di kantor ESDM Jateng pada tahun 2017. 

Setahun kemudian diikuti oleh beberapa kantor lainnya. Setelah itu Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menginstruksikan ke SKPD termasuk bupati atau walikota, agar memasang PLTS di kantor-kantor pemerintahan. Kemudian, anggaran pemasangan PLTS juga menyasar ke sektor bangunan ruang publik seperti sekolahan dan pondok pesantren. Namun, lantaran Pandemi Covid-19, rencana pemasangan PLTS diperluas hingga menyasar ke usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Kita bantukan juga untuk UMKM agar kemudian UMKM-nya punya energi gratis. Sampai hari ini kita kembangkan, bahkan dari APBN juga memperhatikan itu. Akhirnya kita memang Jawa Tengah dalam konteks transisi energi antar provinsi di nasional termasuk yang baik, yang jadi pelopor,” papar dia.

Sujarwanto menjelaskan PLTS dapat memberikan keringanan, khususnya pada sektor publik seperti UMKM, sekolah, dan pondok pesantren. Apalagi, yang membutuhkan listrik untuk produksi pada siang hari akan terasa jauh efisien. 

Pihaknya mencontohkan, bantuan PLTS di salah satu UMKM kerajinan rotan dan mebel di Desa Trangsan, Sukoharjo. Untuk alat produksi penekuk rotan dan mesin ketam yang memerlukan daya besar, dapat disuplai listriknya secara gratis melalui tenaga matahari. Bahkan, di sektor pertanian, energi tenaga surya bisa digunakan untuk menghidupkan mesin pompa air untuk mengairi sawah.

“Padahal kalau pakai energi PLN (listrik batubara) harus berapa membayarnya. Pertanian juga sama, sudah mulai jalan. Saya kasih contoh di Purworejo, Kebumen, ternyata ramai-ramai petani melakukan pengairan, tidak lagi pakai diesel, tapi pakai surya,” terang dia.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Taj Yasin Maemon, menegaskan bantuan PLTS dari pemerintah memang disasarkan ke sektor publik seperti sekolah dan pondok pesantren. Sebab, salah satu persoalan di ponpes adalah biaya listrik yang relatif besar. Sehingga, PLTS ini diharapkan bisa memberikan keringanan bagi pengasuh ponpes.

Pihaknya berharap pemanfaatan energi matahari ini dapat dilakukan oleh seluruh pihak. Sebab, iamenilai Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa ini memiliki suplai panas matahari berlimpah harus bisa memanfaatkannya dengan baik.

“Manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan matahari. Kita punya energi yang besar dan gratis. Ayo kita manfaatkan dengan maksimal. Kita dekatkan (PTSL) ini dengan pesantren, agar nantinya mereka bisa ikut mempelajari dan turut membantu masyarakat lainnya,” tutup Taj Yasin. (Wan/JT02)