JawaTengah.Online — Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) kepada 700 responden rumah tangga di Jawa Tengah mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap perekonomian Jawa Tengah terus meningkat pada Januari 2022, dan tetap berada pada level optimis (>100). Pasalnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2022 sebesar 129,25 lebih tinggi dibandingkan dengan 127,79 pada Desember 2021.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, Rahmat Dwi Saputra, melalui keterangan persnya, Selasa (15/2/2022). Ia mengatakan, Peningkatan keyakinan konsumen didorong baik oleh kondisi ekonomi saat ini, maupun ekspektasi ekonomi ke depan yang membaik.
Lebih lanjut, Indeks Kondisi Ekonomi saat Ini (IKE) yang mencerminkan persepsi konsumen terhadap kinerja perekonomian saat ini meningkat dan tetap berada pada level optimis, menjadi 108,05 pada Januari 2022 dari 106,57 pada Desember 2021.
“Peningkatan IKE, terutama dipengaruhi oleh peningkatan persepsi konsumen terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, meskipun konsumsi barang tahan lama mengalami sedikit penurunan,” kata Rahmat.
Rinciannya, sebut Dwi, sebanyak 32.86 persen responden mengalami peningkatan penghasilan dibandingkan enam bulan yang lalu dan 35,43 persen responden berpendapat bahwa terdapat peningkatan ketersediaan lapangan kerja. Di sisi lain, 23,71 persen responden mengalami penurunan konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama.
Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi 6 bulan ke depan (Juli 2022) yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 150,46 lebih tinggi dibandingkan Desember 2021 yang sebesar 149,01.
Berdasarkan komponen pembentuk IEK itu, peningkatan keyakinan responden terhadap kondisi ekonomi ke depan didorong oleh ekspektasi penghasilan, tenaga kerja, dan dunia usaha yang membaik.
“Jadi sebanyak 54,71 persen responden memperkirakan kenaikan penghasilan 6 bulan mendatang, dan 72,41 pesen responden memperkirakan ketersediaan lapangan kerja akan meningkat. Perkiraan kenaikan penghasilan tersebut didukung oleh ekspektasi peningkatan omzet dan tambahan pendapatan di luar gaji atau upah,” jelas dia.
Sementara itu, perkiraan kenaikan lapangan kerja dipengaruhi oleh ekspektasi peningkatan kegiatan atau proyek Pemerintah maupun Swasta dan semakin mudahnya akses kredit ke perbankan. Lebih lanjut, 69,43 persen responden juga menyatakan kegiatan usaha ke depan akan meningkat.
Dari seluruh responden yang menyatakan perkiraan peningkatan kegiatan dunia usaha ke depan, sebesar 32,72 persen didasarkan pada penilaian akan kenaikan harga yang terkendali, sebesar 31,48 persen didasarkan subsidi atau insentif pemerintah yang meningkat. Kemudian, sebesar 29,42 persen didasarkan pada pembiayaan perbankan yang semakin mudah.
Sedangkan berdasarkan penggunaan, imbuh Dwi, mayoritas penghasilan responden pada Januari 2022 digunakan untuk kebutuhan konsumsi (63,68 persen), pembayaran cicilan atau pinjaman (13,94 persen) dan tabungan (22,38 persen).
“Komposisi ini tidak mengalami perubahan yang signifikan apabila dibandingkan dengan hasil survei Desember 2021,” tutup dia. (Wan/JT02)
