JawaTengah.Online — Stunting merupakan salah satu permasalahan serius yang saat ini masih dihadapi Indonesia, khususnya pada bidang kesehatan masyarakat. Menurut WHO, stunting adalah pertumbuhan dan perkembangan yang terhambat pada anak akibat kekurangan gizi, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak-anak yang dikategorikan mengalami stunting jika tinggi badan menurut usia mereka berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Dilansir dari laman semarangkota.go.id, bahwa tercatat jumlah balita pada April 2025 terdapat 79.981 jiwa, sedangkan jumlah balita yang diukur ada 78.116 jiwa. Persentase balita yang mengalami stunting tercatat 2,74% atau sebanyak 2.138 jiwa. Salah satu daerah dengan angka stunting terbanyak adalah Kecamatan Banyumanik yaitu 126 balita, dengan wilayah terbanyak adalah Kelurahan Jabungan yaitu sebanyak 23 balita.
Faktor-faktor yang menyebabkan balita mengalami stunting adalah pola asuh dari orang tua yang kurang baik dan maksimal, tidak menerapkan pola makan gizi seimbang, akses air bersih dan sanitasi yang kurang memadai, serta menderita infeksi secara berulang. Berkaitan dengan pola asuh orang tua, di Kelurahan Jabungan, mayoritas keluarga yang memiliki balita berada diusia produktif. Hal itu membuat para orang tua yang bekerja menitipkan anak-anak untuk diasuh oleh kakek dan/atau neneknya. Ramadhani dkk (2023) menyebutkan bahwa pola pengasuhan dari kakek dan/atau nenek berpengaruh terhadap stunting pada balita, di mana pola asuh dengan gaya otoriter dan permisif berdampak pada status gizi buruk.
Oleh karena itu, teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk pengawasan pertumbuhan anak dengan meningkatkan akses terhadap informasi gizi pada anak. Intervensi dengan teknologi digital mampu mengurangi jumlah kasus stunting dengan meningkatan kesadaran dan pengawasan terhadap kesehatan ibu dan anak (Lobho dkk, 2024). Mayoritas masyarakat di Kelurahan Jabungan sudah mengenal teknologi digital seperti penggunaan internet dan media sosial sebagai alat untuk berkomunikasi dan mengakses informasi. Oleh karena itu, literasi kesehatan melalui media digital sangat penting bagi masyarakat untuk menekan angka kasus stunting. Masyarakat perlu diperkenalkan bagaimana mengakses informasi mengenai kesehatan keluarga pada platform-platform yang terpercaya, karena di era digital ini banyak informasi-informasi, khususnya informasi kesehatan yang tersebar di internet yang mengandung informasi hoaks atau menyebabkan disinformasi.
Selaras dengan hal tersebut, Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Undip melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Literasi Kesehatan melalui Media Digital untuk Perempuan”. Kegiatan ini berbentuk pemberian materi dan diskusi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat Departemen Ilmu Komunikasi Undip diketuai oleh Dr. Lintang Ratri Rahmiaji dan anggotanya adalah Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, Dr. Turnomo Rahardjo, Mummad Rif’at Al-Razi, M.I.Kom, dan Naomi Putri Bahari Simeon, M.I.Kom.
Sasaran khalayak dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah PKK Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah dan dilaksanakan pada hari Jumat, 15 Mei 2025 bertempat di Aula Kelurahan Jabungan. Kegiatan ini diikuti oleh 70 anggota PKK Kelurahan Jabungan. Sekretaris Kelurahan Jabungan Dyar Oktaningrum, S.IP menyambut dengan baik kegiatan ini dan sekaligus memberikan sambutan pada pembukaan pada Workshop Literasi Kesehatan melalui Media Digital untuk Perempuan. Dalam sambutannya, Dyar mendorong ibu-ibu membangun kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi dan kesehatan balita agar tidak mengalami stunting, apalagi Kelurahan Jabungan merupakan wilayah dengan jumlah kasus stunting tertinggi di Kecamatan Banyumanik. Oleh sebab itu, selaku perangkat desa, ia sangat mendukung dan menerima secara positif kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, supaya ibu-ibu anggota PKK ini terliterasi dengan baik mengenai kesehatan keluarga melalui media digital.
Kegiatan diawali dengan pre test yaitu menggali bagaimana pengetahuan dan pemahan awal mengenai literasi kesehatan melalui media digital. Kemudian, pada akhir kegiatan juga dilakukan post test yaitu survei untuk mengetahui peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat selaras dengan tema workshop. Materi dalam workshop ini mengangkat tema “Cegah Stunting wujudkan Anak Sehat dan Cerdas” yang disampaikan oleh Astini Kumalasari, M.I.Kom dari Japelidi (Jaringan Pegiat Literasi Digital). Dalam sesi materi berisi tentang informasi-informasi bagaimana menghindari info hoax kesehatan, bagaimana cara mengevaluasi kualitas informasi, dan tips menghindari informasi hoax kesehatan. Pada sesi taya jawab, para peserta sudah memahami informasi-informasi mengenai stunting. Hasil post test juga menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang literasi kesehatan melalui media digital. Oleh sebab itu, Tim pengabdian kepada masyarakat Departemen Ilmu Komunikasi FISI Undip akan Kembali melakukan kegiatan workshop dengan tema literasi kesehatan melalui media digital pada wilayah-wilayah di Kota Semarang yang memiliki kasus stunting, sehingga dengan demikian dapat membangun kesadaran masyarakat mengenai kesehatan keluarga.
