SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencatat ada 1.550 bencana yang terjadi di wilayahnya sepanjang Januari hingga 13 September 2022. Bencana tersebut antaranya ada angin kencang, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, gelombang tinggi atau abrasi, tanah longsor, banjir, gunung meletus, kebakaran, tanah gerak dan kekeringan. 
Kepala BPBD Jateng, Bergas C Penanggungan, mengatakan mayoritas bencana didominas tanah longsor, angin kencang dan banjir. Untuk wilayah rawan atau sering terjadi bencana yakni Magelang, Cilacap dan Banyumas. 

“Sebetulnya yang paling sering (bencana) Cilacap, Banyumas, Magelang, Brebes. itu wilayah-wilayah yang terindikasi longsor beberapa kali,” kata Bergas saat dihubungi, Rabu (14/9/2022). 

Menyikapi hal tersebut, Bergas meminta tiap BPBD kabupaten/, khususnya yang daerahnya rawan untun senantiasa menginformasikan prakiraan cuaca ekstrem dan peringatan bencana dini. Sebab, hal tersebut dapat menjadi antisipasi awal sebelum teejadi bencana. 
“Seperti informasi cuaca ekstream dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) kemarin, masyarakat harus tahu, agar waspada dan siap bila menimbulkan tanah longsor atau banjir. Mulai menjauh dari ruang (daerah) yang sifatnya bahaya, membersihkan selokan hingga drainase,” pungkas dia. 
Informasi awal itu, ungkap Bergas, sangat berguna karena bencana tanah gerak di Jateng wilayahnya cukup luas hingga sulit di deteksi keseluruhan dengan early warning system tanah gerak. Namun, ia menegaskan hal tersebut tidak menjadi kendala. 

“Kendala bukan. Tapi memang untuk mendeteksi perlu early warning system cukup banyak. Karena mahkota (titik rawan) yang ada di dataran tinggi atau lereng jumlahnya sangat banyak kadang terlihat kadang enggak. Terus sifatnya kawansan, jadi belum bisa menjangkau keseluruhan. Tapi terpenting, tau informasi awal sebagai antisipasi dan tau apa itu  tanda-tanda alam untuk kesiap siagaan,” tegas dia. 

Sekadar informasi, berdasarkan catatan BPBD Jateng, ada sekitar 390 early warning system tanah gerak yang tersebar di tiap kabupaten/kota. Meski tak merinci, pihaknya tak menampik bila sebagian dari sistem tersebut ada yang mengalami kerusakan dan perlu perbaikan. 
“Itu (early warning system) alat bantu. Jangan sampai kita ketergantungan alat itu saja, karena bisa kurang waspada. Jadi yang penting kewaspadaan membaca tanda alam dan mengetahui informasi dini,” tutup dia. (Wan)