JawaTengah.Online – Kelangkaan dan harga minyak goreng (migor) yang masih tinggi membuah sejumlah masyarakat terus merasa resah. Menjadikan Pemerintah Provinsi (pemprov) Jawa Tengah mendapat desakan untuk mengatasi persoalan tersebut.


Hal tersebut diakui Gubenur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat berada di Rumah Dinas (Rumdin), Kamis (24/2/2022). Ia mengatakan, terus mendapat keluhan masyarakat terkait kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng.

“Banyak sekali (keluhan), UKM (Usaha Kecil Menengah) kemarin nanya, warga nanya, ‘kenapa pak minyak ggoreng di tempat saya masih langka?’. Saya sudah komunikasi dengan pusat juga. Ini sudah disiapkan jadwal-jadwalnya,” kata Ganjar.

Ganjar menjelaskan, jadwal operasi pasar perlu disampaikan kepada publik agar tidak memunculkan kekhawatiran pada masyarakat. Seperti yang dilakukan sampai hari ini oleh beberapa pihak.

Lebih lanjut, sejak tanggal 21–23 operasi pasar dilakukan hampir menyeluruh di Jawa Tengah. Misalnya PT Sawit Juara yang mendistribusikan kurang lebih 32 ton minyak di Kota Semarang.

“Terus kemudian adalagi dari PT PPI, ini tanggal 21 sampai 23. Ini ada di Purworejo, Kebumen, Kota Semarang, dan Kota Surakarta. Ini masing-masing, kurang lebih 3,000 liter,” jelas dia.

Operasi minyak goreng juga dilakukan oleh Perum Bulog sejak 22–23 Februari. Yakni di Batang sebanyak 2,000 liter, Wonosobo 2,000 liter dan Grobogan 3,000 liter.
Kemudian, dari PT BES juga melakukan operasi pasar minyak goreng. Totalnya 123,000 liter atau kurang lebih 10,250 dus dibagikan ke Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal, Demak, Salatiga, Jepara, Batang, Magelang, Purbalingga dan beberapa kota lainnya.

“Kalau kita ngelihat kondisi ini, rasa-rasanya publik harus tahu terkait dengan operasi pasar. Karena tadi pagi saya masih ditanyain teman-teman dari demak bahwa kok minyaknya masih mahal dan langka,” terang dia.

Ganjar berharap, pemerintah pusat mengambil tindakan tegas terkait kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) 20 persen yang harus dibagikan kepada masyarakat. Sehingga, masalah minyak goreng dapat segera ditanggulangi.

“Kita lagi berada pada situasi yang tidak menguntungkan hari ini, maka pada pemerintah pusat saya harapkan betul untuk mengambil tindakan yang tegas sehingga DMO 20 persen yang mesti dibagi harus dibagi,” harap dia.

Ganjar juga minta masyarakat tidak berlebihan selama membeli stok minyak goreng. Karena kondisi minyak goreng yang langka ini, juga telah berdampak pada psikologi masyarakat. Antaranya banyak cara dilakukan agar bisa mendapatkan stok minyak goreng lebih.

“Kepada warga karena situasinya tidak menguntungkan, belinya secukupnya dulu. Sehingga semua akan bisa mendapatkan minyak goreng,” pinta dia.

Lebih jauh, Ganjar mengimbau agar tidak ada oknum yang menimbun minyak goreng di Jawa Tengah. Termasuk pada oknum yang melakukan tindakan ilegal dan membahayakan masyarakat terkait ini.

Selain itu, Ganjar berharap masyarakat juga berhati-hati dalam hal menggunakan minyak goreng. ia mengingatkan, pengolahan minyak goreng berulangkali akan berbahaya.

“Jangan sampai nanti karena situasi kondisi seperti ini, dipake berkali-kali ada yang dengan cara ilegal, dibersihkan lagi, dengan tritmen kimia jangan sampai itu terjadi. Sehingga masyarakat akan bisa mendapatkan keamanan pangan yang baik,” tutup dia. (Wan/JT02)