JawaTengah.Online – Selain komoditas minyak, kedelai turut mengalami kenaikan harga, bahkan sempat memicu aksi protes mogok produksi. Namun, para pengrajin tempe di Kota Semarang, Jawa Tengah, enggan melakukan aksi mogok produksi seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain. 


Keman (53), pria setengah abad yang bekerja sebagai pengrajin tempe di jalan Madukoro Semarang Barat, menceritakan lebih memilih tetap memproduksi meski harga kedelai terus merangkak naik. Sebab, berjualan tempe menjadi satu-satunya pilihan untuk tetap menyambung hidup. 


“Yang penting dapet makan buat sehari-hari. Dari pada kerja yang lain juga ga dapet-dapet,” kata Keman, saat memjawab pertanyaan di sela-sela kesibukan membungkus kedelai. 

Alasan tersebut, karena rumah produksinya tidak bisa melakukan opsi pengecilan hasil olahan tempe. Pasalnya, Keman adalah seorang pengecer di Kota Semarang. 

“Tempenya kalo kecilin susah. Saya pengecer, harga satunya Rp 11.500,” lanjut Keman. 

Jika melihat secara kasat mata, olahan produksi tempe milik Keman terbungkus daun pisang dengan ukuran telapak bayi. Hal itu yang membuat Keman tidak bisa melakukan penyesuaian berat meski harga naik. 

Kesempatan sama, cara berbeda dilakukan Slamet (51). Ia mengatakan, cara yang dilakukan menyikapi harga naik yakni dengan menyesuaikan ukuran tempe. 

“Kalau mengurangi produksi enggak. Naikan harga juga tidak bisa, turun juga tidak. Bisanya mengurangi ukuran,” kata Slamet. 

Slamet menjelaskan, harga kedelai impor yang melambung tinggi sejak Desember 2021 berimbas pada pengurangan ukuran dan kualitas produksi. Pasalnya, produk pangan berbahan dasar kedelai itu bergantung pada impor.  

“Jadinya produksi tempe menjadi terganggu akibat naiknya harga kedelai impor itu,” jelas Slamet.

Slamet juga menuturkan, harga kedelai yang sebelumnya berada pada kisaran 7,800 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 11.000  per kilogram. Kenaikan yang drastis ini mempengaruhi ukuran dan kualitas tempe yang ia produksi. 

“Berat kedelai untuk satu papan tempe biasanya lima ons, sekarang jadi 4,5 ons. Pedagang di pasar ada yang mau, ada yang enggak,” terang Slamet. 

Selain ukuran, Slamet turut menyesuaikan cara pencucian kedelai agar kulitnya tidak terbuang. Hal itu untuk membuat berat tempe tetap sama. 

“Efeknya kualitas tempe jadi menurun. Agak keras dan kurang tahan lama. Tapi ya mau gimana lagi, cuma itu caranya,” lanjut Slamet. 

Ketika ditanya mengenai aksi mogok produksi pada sejumlah wilayah tersebut, Slamet tidak menampiknya. Bahkan sempat ada ajakan namun ia memilih tetap produksi.

“Beberapa daerah ada yang mogok produksi. Kalau saya tidak. Walau kedelai agak mahal sedikit, tidak apa-apa, tetap produksi,” pungkas Slamet. (Wan/JT02)