JawaTengah.Online – Berdasarkan penetapan Umpah Minimum Kabupaten (UMK) 2022 oleh Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, Kota Semarang menjadi yang tertinggi. Namun faktanya, UMK Ibu Kota Jateng senilai Rp 2.835.021,29 ini masih dinilai rendah.
Hal itu disampaikan Pakar Ekonomi dari Universitas Muhamadiah Semarang (Unimus), Hardiwinoto, saat dikomfirmasi, Selasa (10/5/2022). Ia mengatakan, kehidupan dikota memerlukan penyesuaian lebih.
“Misalnya UMK Semarang yang tertinggi, itu saja masih kategori rendah. Karena kan, kita berprinsip pada kebutuhan pokok masing-masing. Sedangkan kalau di daerah kan, biasanya masih punya samben (sampingan), seperti sawah, hotel, atau penghasilan lainnya,” kata Hardi.
Sehingga, jelas Hardi, UMK senilai 2,8 itu dinilai belum pada taraf aman. Ia menyebut, seharusnya berada pada angka 3 jutaan.
“Karena apa? UMK naik ini, selalu berbarengan dengan harga-harga yang naik. Jadi sebenarnya itu seperti tidak naik dan hanya menyesuaikan inflasi saja,” jelas dia.
Sama halnya dengan daerah lain, Hardi menyebut tergantung kondisi masing-masing daerah. Pasalnya, permasalahan UMK juga disebut relatif tergantung kondisi ekonomi di sana.
“Makanya itu (masyarakat daerah), mendorong tenaga kerja untuk bekerja ke kota besar. Itu kan, sebenarnya untuk mencari penghasilan yang lebih besar di kot kecil (daerah),” beber dia.
Sebab itu, Hardi berharap pemerintah provinsi (Pemprov) Jateng dapat mencari titik tengah terkait permasalahan UMK ini. Yakni agar terjalin keseimbangan antara masyarakat dan industri.
“Kalau tenaga kerja berburu upah lebih besar, kalau industri berburu tenaga kerja yang murah, kan begitu. Jadi perlu negosiasi di sini,”katanya
Sementara itu, warga Tegal yang merantau ke Kota Semarang, Fina Talita (23), mengaku UMK di Ibu Kota Jateng juga dirasa kurang. Padahal, ia menyebut sudah hidup dengan cukup hemat.
“Menurutku masih kurang. Harusnya di angka empat jutaan. Padahal tanggunganku nggak banyak juga, cuma kos, biaya hidup, kredit motor satu dan orangtua,” kata seorang yang berprofesi sebagai Customer Service selama dua tahun itu.
Senada, Rafa Zahrah Natasya (24), mengatakan gaji UMR di Kota Semarang juga dirasa kurang. Ia mengaku dengan biaya hidup yang ditawarkan, taraf 2,8 juta hanya bisa menyisihkan sedikit uang untuk menabung.
“Sebagai wanita lajang yang merantau, masih kurang segitu, cuma pas-pasan saja lah, kalau buat hidup di sini. Harusnya di 3,5 jutaan taraf amannya,” tutup dia. (Wan/JT02)
