JawaTengah.Online – Fenomena kemarau basah yang masih melanda hingga Juni 2022 membuat resah para petani tembakau di Jawa Tengah (Jateng). Pasalnya, curah hujan yang masih tinggi itu menyumbang 20 persen tingkat kematian tembakau. 

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jateng, Wisnu Brata, mengatakan banyak petani melakukan tanam ulang dan menyulam yang mati. Sebab, kondisi ini disebut merata terjadi di seluruh wilayah Jateng. 

“Posisi sekarang memang petani banyak yang tanam ulang dan sulam yang mati. Tapi kalau di posisi bulan juni ini, tidak mungkin untuk sulam lagi. Karena sulam pun, ngak akan bisa sesuai target masa panen. kalau yang sebelum (Juni), masih ada kesempatan,” kata Wisnu, saat dikonfirmasi, Selasa (14/6/2022). 

Kendati demikian, Wisnu belum bisa merinci dampak apa saja yang nantinya diterima para petani. Sebab, terkait dampak akan jelas terliat usai petani melakukan toping atau bunggel tembakau. 

“Kita akan lebih tahu pastinya kalau sudah masuk bulan Juli, karena nanti petani sudah toping. Petani bisa tau mana tembakau yang sehat mana yang tidak,” jelas dia. 

Wisnu sekali lagi mengungkapkan, kemarau basah ini tak hanya berdampak didaerah Temanggung. Namun juga merata ditiap kabupaten atau kota. 

“Sama meratanya (dampak kemarau basah) di semua Jateng. Terutama yang tanamnya dibulan April-Mei. kecuali yang tanam ahir itu (April-Mei), seperti di Rembang, Wonogiri, Klaten, belum keliatan dampaknya, karena tanamnya memang agak mundur. Jadi tembakaunya masih bisa disulam,” ungkap dia. 

Sedangkan untuk wilayah lain, lanjut Wisnu, dipastikan sudah tidak bisa disulam. Antaranya ada Boyolali, Magelang, Temanggung, Wonosobo dan Kendal atas. 

“Itu sudah nggak bisa kecuali yang bawah. Seperti Mranggen, Purwodadi, itu masih bisa lah tertolong. Tapi ya tetap saja, semoga hujan ini nggak terus-terusan,” lanjut dia. 

Disinggung mengenai antisipasi, Wisnu menerangkan sudah tidak ada yang bisa dilakukan. Sebab, kondisi ini disebabkan oleh faktor alam. 

“Sudah tidak ada (antisipasi), nggak mungkin karena itu faktor alam. Sedangkan tembakau bergantung cuaca. Jadi meski ada hujan, tapi insentitafnya ngak tinggi. Makanya ini yang harusnya masuk April sudah baik (cuacanya), tapi sampai Juni belum ada perubahan,” tutup dia.

Sebagai informasi, lahan pertanian di Jateng pada tahun 2021 menurut APTI sebanyak 65 ribu hektar. Sedangkan tahun ini, belum bisa dipastikan karena masih ada wilayah yang belum menanam. (Wan/JT02)