JawaTengah.Online – Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (Jateng) terus berupaya mencegah kemunduruan bahasa Jawa. Yakni dengan meluncurkan program revitalisasi bahasa daerah bersama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng, pakar, sastrawan hingga guru. 

“Kita kan mengadakan revitalisasi bahasa Jawa yang di dalamnya ada banyak sekali pakar. Itu (pakar) kan, berarti dia expert (ahli) di bidangnya. Nantinya, mereka sesuai dengan kemampuannya, sesuai dengan pengetahuanya, akan mengembangkan, salah satunya adalah buku yang fungsinya untuk pengajaran kami. Kedepan itu akan sangat membantu sekolah-sekolah untuk mencari referensi yang valid,” kata Kepala Disdikbud Jateng, Uswatun Khasanah, seusai pembukaan program Revitalisasi Bahasa Daerah di Hotel Patra, Semarang, Jumat (24/6/2022) malam.

Uswatun mengungkapkan, dalam catatan penelitianya, terutama bahasa Jawa Kromo Inggil, anak-anak yang mengusai presentasi bahasa tersebut sangat sedikit. Bahkan, tidak mencapai 50 persen dari sampel penelitianya.

“Saya pernah meneliti pemerolehan bahasa bayi dari 0-5 tahun. Didalamnya ada juga data terkait dengan bahasa Jawa. Itu (hasil penelitial) adalah anak-anak yang menguasai bahasa Jawa ini presentase mungkin yang diajarkan di rumah itu hanya sekitar 25 persen dari jumlah responden yang saya ambil pada saat itu dari 75 persenya,” beber dia.

Tak hanya sampai disitu, bahasa Indonesia bahkan disebut ikut andil dalam kemunduran bahasa Jawa. Sebab, banyak orang tua yang lebih senang mengenalkan anaknya berbahasa Nasional namun tak dibarengi dengan bahasa daerah atau Jawa. 

“Terus apalagi sekarang kita sudah masuk wajib berbahasa Inggris. Mengapa tidak ada bahasa Jawa? Seharunya jangan malu berbahasa daerah. Jadi ini menjadi PR kita bersama, termasuk saya. Orang tua harus ikut andil dalam mengajarkan bahasa Jawa. Bagaimana pun, berbahasa secara verbal di dalam bahasa Jawa itu serat sekali dengan muatan lokal. Memudian juga pendidikan karakter melalui dolanan lagu-lagu Jawa,” imbuh dia. 

Sekali lagi uswatun menegaskan, tangangan dalam merevitalisasi bahasa daerah adalah gerakan dalam membiasakan. Yakni, didorong melalui upaya kebiasaan membaca dan bertutur bahasa Jawa. 

“Membiasakan itu dari upaya sadar pembiasaan, kita enggak bisa masuk di rumah, kecuali hanya sekadar menyarankan. Jadi pendidikan pertama itu dimulai dari keluarga, dimana kita bisa menyarankan pada orang tua di rumah untuk mengajarkan bahasa Jawa. Bagaimana pun, itu juga tidak semudah membalikkan tangan. Apalagi masih ada prestise bahwa Bahasa Indonesia itu pengajaran di rumah lebih keren dibandingkan bahasa Jawa,” tutup dia. 

Diberitakan sebelumnya, Balai Bahasa Jateng dalam catatannya menyampaikan jika pada 2019 bahasa daerah di Jateng yakni bahasa jawa mengalami kemunduran. Sebab, meski penuturnya masih banyak namun kondisi saat ini dinilai semakin rentan. 

Hadirnya program revitalisais bahasa daerah ini bertujuan untuk melestarikan penggunaan bahasa daerah serta mencegah kepunahan bahasa jawa. Selain itu, program ini juga merupakan program Merdeka Belajar episode ke-17 mengenai upaya revitalisasi bahasa daerah. (Wan/JT02)