SEMARANG – Lokalisasi Sunan Kuning atau SK merupakan tempat prostitusi terbesar di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Berlokasi di kawasan perbukitan Argorejo, Kecamatan Semarang barat, SK memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya ditutup pada 2019 lalu. 

Pusat bisnis esek-esek di Kota Semarang itu lahir pada 1966. Diprakirakan, ada sekitar 700 pekerja seks komersiak (PSK) yang dulu bekerja disana. 
“Dulu (prostitusi) Semarang Timur, Banjirkanal Timur, Semarang Atas, Semarang Barat basisnya di sini (SK). Terus dulu terkenalnya lokalisasi lampu merah, bukan SK. Kemudian dikenal sebagai Srikuncoro atau SK. Jadi (namanya) sebenarnya bukan Sunan Kuning,” kata Sekretaris Paguyupan Karoke (Pakar) Argorejo, Iswanto, saat dijumpai Senin (12/9/2022) malam.

Kemudian pada tahun 70-an, terang Iswanto, masyarakat desa setempat merubah nama menjadi Argorejo. Argo sendiri memiliki arti gunung dan Rejo berarti makmur. 
“Jadi Argorejo itu ibarat gunung yang menbuat makmur warganya. Terus samakin lama semakin berkembang dan makin banyak rumahnya di sini,” terang dia. 
Tak hanya itu, pada tahun 1987 Iswanto menyampaikan sempat terjadi polemik di antara masyarakat Kota Semarang. Sebab, pada tahun tersebut lokalisasi terbesar di Semarang itu rencananya akan dipindahkan ke Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik. 
“Alasan geser komplek (pindah) karena sudah banyak (ramai). Jadi mau dipindah, udah bikin konsep juga, bangunan, sudah seperti perumahan, tapi dirubuhkan orang sana, ditolak. Akhirnya tidak jadi pindah dan tetap disini,” beber dia.

Memasuki Oktober 2019, lokalisasi SK ini resmi ditutup oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Bebas Prostitusi 2019. Sejak penutupan itu, pemukiman di tempat tersebut menjadi sepi dan tak ada lagi kegiatan prostitusi, hanya ada tempat karoke yang masih beroperasi. 
“Waktu itu warga berembuk, oke prostitusi boleh tutup. Tapi beri jalan keluar, karoke tetap diizinkan. Kemudian dijanjikan kuliner plus karoke konsep kedepanya,” pungkas dia.

Kendati tak ada kegiatan prostitusi, Iswanto tak menampik bila penutupan lokalisasi tersebut tidak serta merta menghentikan kegiatan prostitusi secara total. Dengan kemajuan digital, mantan PSK lokalisasi SK banyak yang beralih ke platform digital dan melakukan kegiatan prostitusi secara tersembunyi.  
“Dulu (sebelum ditutup) mereka (PSK) bisa kita pantau kesehatanya. Tapi semenjak ditutup sulit, disini memang sudah enggak ada (prostitusi), tapi mereka melakukan transaksi, mainya di luar. Ada juga mantan PSK yang beralih menjajankan di pinggir jalan atau pindah lokalisasi lain,” sebut dia. 
Kondisi terkini, sudah tidak ada lagi kegiatan prostitusi yang ada di kompleks tersebut, jalananya pun nampak sangat sepi. Padahal sebelumnya, area ini dikenal dengan pemandangan buka-bukaan dari para PSK yang mangkal di sepanjang jalan dengan pakaian serba minim dan ketat guna menarik pelanggan. 
Saat ini di Argorejo hanya ada 118 tempat karoke dengan sekitar 500 pekerja pemandu karoke atau PK. 70 persen dari PK itu kebanyakan berasal dari luar Kota Semarang. 
“(PK) Semarang sekitar 30 persen. Wonosobo pertama, kedua Kendal atau Pantura Barat, ketiga dari Purwodadi, Jepara. Jabar (Jawa Barat) sekarang juga ada, Bandung, terus luar jawa ada tapi sedikit,” tutup dia. (Wan)