JawaTengah.Online – Seiring perkembangan zaman, peran prangko tak hanya sebagai alat bayar pos atau surat. Prangko bahkan bisa bermetamorfosis sebagai alat yang dapat membuktikan kedaulatan sebuah bangsa hingga sarana edukasi bagi masyarakat. Lantas, bagaimana perkembanganya hingga sekarang?
Sekilas, tampilannya prangko hanyalah secarik kertas, berukuran kecil dan bisa bergambar atau tidak. Namun, memiliki ciri khas nama negara penerbit serta nominal tertentu sesuai biaya pegiriman.
Meski namanya kian meredup dan tak banyak orang yang mengirim barang dengan menggunakan prangko, nyatanya benda pos ini masih bisa digunakan sampai saat ini. Termasuk di Indonesia, setiap tahunnya masih menerbitkan prangko-prangko terbaru dengan tema yang berbeda.
“Prangko ini, sekarang juga bisa menjadi alternatif sarana edukasi. Contohnya setiap tahun kami selalu menerbitkan prangko dengan tema berubah-ubah. Ada tokoh nasional perjuangan juga. Terbaru, ada tokoh Ki Hajar Dewantoro, itu (keluar) 3 Juli 2022,” kata Kepala Cabang Utama Kantor Pos Semarang, Muhammad Ramdhan, saat menceritakan eksistensi prangko di Semarang, Selasa (9/8/2022).
Edukasi tersebut, yakni dengan cara menumbuhkan rasa penasaran seseorang melalui gambar yang disajikan. Sehingga, memunculkan rasa ingin tau yang berujung pada penggalian informasi.
“Misalnya kasih gambar tokoh perjuangan, adat rumah, budaya atau lainya. Jadi meski ada nama yang tercantum, tapi setelah melihat kan, pasti muncul rasa penasaran kalau tak tahu (kejelasan gambar tersebut), misal ini (tokoh) berasal darimana ya? Ceritanya bagaimana ya? Muncul lah rasa ingin menggali lebih jauh, mencari tahu,” jelasnya saat menunjukan koleksi prangko tokoh-tokoh proklamasi.
Dalam catatan buku 150 Tahun Prangko di Indonesia, prangko ini dapat diartikan sebagai simbol kebebasan, sekaligus unjuk gigi kedaulatan pemerintah Republik Indoensia (RI) yang ketika itu terancam kembali diserobot Belanda. Prangko pun pernah dipakai jadi alat komunikasi atau boleh jadi, propaganda pemerintah kepada rakyat.
Prangko pertama di Indonesia tercatat terbit pada 1 April 1864, ketika Indonesia masih berada di bawah jajahan pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan prangko pertama pemerintah RI, diterbitkan bergambar banteng dan bendera merah-putih pada 1 Desember 1946.
“Di sini cukup banyak prangko yang disimpan, koleksinya (prangko) sekitar ratusan, 90-an ada. Tapi untuk yang tahunya terlalu lama, kita kembalikan ke Kantor Pos Pusat. Karena ini kategori barang beharga dan ada nilai nominalnya,” pungkas dia.
Saat mencoba melihat lebih dekat, Kantor Pos Cabang Semarang memiliki sejumlah koleksi penagko dengan beragam macam tema. Mulai dari tokoh nasional, daerah, wisata hingga rumah tradisional Indonesia.
Di simpan dalam meja kaca persegi panjang, ratusan prangko aneka tema itu terpampang jelas di depan loket 1 Kantor Pos Cabang Semarang. Tak hanya itu, beberapa diantaranya bahkan disertai informasi lengkap terkait gambar yang di prangkokan.
Kemampuan prangko merekam situasi zaman ketika diterbitkan akhirnya menjadi salah satu sebab prangko bertahan hingga saat ini. Ditambah Pos Indonesia juga punya layanan Prangko Identitas Milik Anda (Prisma), di mana seseorang bisa mendesain prangko sesuai keinginan, namun tetap resmi dan dapat digunakan untuk pengiriman.
“Penyimpanan (untuk koleksi) lewat album khusus prangko dan tempat kedap udara,” tutup dia. (Wan/JT02)
