JawaTengah.Online – Congyang atau sering dikenal Ceye, lahir dari tangan dingin Koh Tiong di bilangan Wotgandul, kawasan Pecinan Semarang sejak sekitar 1980 silam. Minuman fermentasi tradisional ini, menjadi legenda di tengah kehidupan masyarakat kota. 

Minuman dengan kemasan botol bergambar cap tiga orang ini, ketika dicoba memiliki rasa manis di awal dan kecut di ujung, akibat fermentasi beras yang menjadi bahan utamanya. Sampai di perut, minuman ini terasa menghangatkan tubuh. 

Apabila dilihat dari komposisi bahan yang tertera pada kemasan, Congyang terbuat dari fermentasi beras putih, dicampur dengan gula, spirit dan aroma. Mirip seperti fungsi whisky, Congyang rasanya cocok ditenggak di hari yang dingin. 
Sebagai minuman yang lahir di kawasan Pecinan, beberapa menyebut Congyang sebagai salah satu produk akulturasi budaya Tionghoa di tanah Jawa. 

Bahkan, kehadiran minuman fermentasi beras ini tak lepas dari A Djong, minuman serupa pendahulunya. Konon, Congyang adalah evolusi dari A Djong yang ramai di seantero kota pada era 1970-an. Namun, lambat laut A Djong meredup dan lahirlah Congyang. 

“Kalau tanya Semarang, itu salah satu kota pelabuhan yang punya jaringan perdagangan sampai ke china, dan juga bersama kota lain, seperti Lasem, Tuban, kota itu banyak orang china. Nah fermentasi itu, kemudian tradisi orang china, yaitu Congyang. Sehingga nama Congyang lebih terkenal dibanding nama alcohol yang lain,” kata Pengamat Sejarah dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Wasino, Senin (27/6/2022). 

Warsino menuturkan, sebenarnya banyak jenis minuman alcohol yang berkembang di Kota Semarang, khususnya barat yang dinilai membawa fenomena minum-minuk tersebut. Namun, karena Indonesia punya sejarah panjang dengan China, termasuk Semarang, fermentasi dari negeri panda itulah yang lebih terkenal atau berkembang pesat. 

“Bedanya jika di barat, bahannya fermentasi anggur, tapi di Indonesia, fermentasi macam-macam, ada ketan, tape, nita kelapa, terus ada juga tetes tebu. Minum-minum itu juga tak terlepas dari pengaruh Barat juga, dimana mulai abad 17 muncul pemukiman orang Barat, Kota Lama misalnya. Terus tradisi minum anggur itu berpengaruh terhadap masyarakat Semarang yang mulai naik. Tapi karena mempunyai sejarah panjang dengan China, perkembangan lebih dikenal Congyang,” tutur dia.

Berdasarkan berbagai sumber, sejak awal Congyang memang diproduksi massal sebagai komuditas dagang. Minuman ini kali pertama diproduksi di sebuah rumah, tepatnya di sebelah Klenteng Siu Hok Bio yang berada di Jalan Wotgandul, kawasan Pecinan Semarang. 

Apabila diamati secara kasat mata, pada kemasan botol tertulis Cong Yang dengan gambar logo anak kecil diapit raja dan ratu. Dari gambar itu lah, masyarakat kemudian sering menyebutnya dengan nama Cap Tiga Orang.

Hingga kini Cap Tiga Orang dikenal luas dengan istilah Congyang atau Ceye. Bagi para penikmatnya, minuman ini merupakan air kedamaian, air kata-kata yang rasanya manis dan menghangatkan, cocok untuk penyambung lidah dan temu kangen.

“Biasanya minum ya buat senang-senang aja, mendem (mabuk) bareng sama teman-teman masa kuliah. Ben ngobrole luwih penak (biar mengobrolnya makin asik), kan sekalian temu kangen,” kata Rizal, salah seorang penikmat minuman Congyang.

Padahal, sebenarnya ramuan yang terkandung pada Congyang ini diracik secara khusus oleh Koh Tiong untuk meningkatkan kejantanan atau keperkasaan bagi lelaki. Yakni dengan takaran khusus satu sloki (gelas kecil). Namun, seiring pergeseran zaman minuman ini sering disalahgunakan. 

“Neng awak emang rasane enak (dibadan rasanya memang enak), tak akoni (saya akui), berkhasiat lah. Tapi kalau enggak berlebihan (minumnya), misal dua atau tiga gelas sehari. Cuma seringe, malah telong botol sedino (tiga botol sehari), bugar ora mendem iyi (bugar tidak mabuk iya),” tutur dia.

Sebagai informasi, komsumsi Congyang yang sesuai dengan aturan, menurut berbagai sumber memang disebut berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah dan membuat otot serta saraf menjadi rileks. Sehingga, masyarakat dianjurkan tidak boleh melebihi dosis karena jika melebihi dosis dapat memabukkan hingga menyebabkan seseorang menjadi hilang ingatan. (Wan/JT02)