JawaTengah.Online – Sore menjelang malam, tepatnya pukul 16.00 WIB, Muhammad Rizal Pahlevi, warga asli Boyolali itu mengendarai sepeda motor dari rumahnya dan menuju sebuah warung di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB), Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Bukan tanpa alasan, tujuannya mendatangi Kota berjuluk Lumpia tempat ia menimba ilmu semasa kuliah dulu itu tak lain untuk melepas penat sekaligus ajang temu kangen bersama teman lama. 

Warung yang menjadi tempat nongkrong dengan kedua rekanya itu, sering dikenal dengan sebutan Pandawa BSB atau Pandawa Eatery & Liquor Store BSB. Di sana, banyak orang-orang bersantai ria. Sebab, di tempat tersebut pengunjung tanpa beban memesan Congyang, minuman keras (miras) yang tak asing bagi warga Semarang.  

Malam itu, tepatnya pada pertengahan tahun 2021 kemarin, sebanyak lima botol Congyang digelontorkan Rizal dan kedua rekanya. Katanya, sebagai tradisi melek bengi dalam rangka temu kangen usai dua tahun sibuk dalam pekerjaan masing-masing. 

“Biasanya minum ya buat senang-senang aja, mendem (mabuk) bareng sama teman-teman masa kuliah. Ben ngobrole luwih penak (biar mengobrolnya makin asik), kan sekalian temu kangen,” kata Rizal, saat menceritakan masa reuniannya itu.

Selain untuk penyambung lidah, Rizal sendiri mengamini jika Congyang memang memiliki sejumlah khasiat untuk badan. Pasalnya, ia merasa bugar kembali saat bangun tidur seusai menenggak minumam cap tiga orang itu. Namun, rasa bugar tersebut hanya terasa ketika ia meminumnya tanpa berlebihan. 

“Neng awak emang rasane enak (dibadan rasanya memang enak), tak akoni (saya akui), berkhasiat lah. Tapi kalau enggak berlebihan (minumnya), misal dua atau tiga gelas sehari. Cuma seringe, malah telong botol sedino (tiga botol sehari), bugar ora mendem iyi (bugar tidak mabuk iya),” pungkas dia. 

Sebagaimana diketahui, Congyang yang pada esensinya adalah jamu kesehatan, pada perjalanannya justru makin kesini banyak dikonsumsi secara berlebihan oleh para konsumennya. Sehingga, miras yang punya riwayat untuk menyembuhkan masuk angin itu kini sering jadi ajang unjuk keganasan.

Pengamat Sejarah dari Fakulas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Wasino, menyampaikan pergeseran fenomena tersebut mulai terjadi menjelang tahun 2000-an. Yakni, saat perkembangan penduduk makin besar dan peran atau waktu orang tua kepada anak mulai berkurang. 

“Kalau dulu, miras saat zaman kerajaan menunjukan minumun raja, kemudian berkembang menjadi minuman hight class. Tapi sekarang, jadi ajang kebanggan, biar gantle, sangar dan mencari jati diri. Yaitu merasa bangga, hebat apabila minum itu (Congyang), terus sebaliknya kalau tidak berani minum,” terang Wasino yang juga merupakan Wakil Dekan itu.

Pergeseran fenomena tersebut, jelas Wasino, berdasarkan kaca matanya dalam melihat fenomena remaja yang saat ini membentuk komunitas tersendiri. Selain itu, dibuktikan tindakan aparat saat mengamankan sejumlah remaja yang ternyata melakukan tindakan melawan hukum dalam pengaruh miras, termasuk Cognyang. 

“Seringnya sekarang, beda lagi pemaknaanya, berkaitan dengan anak gangster, dugal dan sebagainya. Untuk sejumlah remaja malah bergeser kesitu, sebagai ajang kegengsian, biar sangat, terusbmembentuk kelompok,” jelas dia. 

Sebagai informasi, minuman Congnyang atau sering disebut Ceye ini, lahir dari tangan dingin Koh Tiong di bilangan Wotgandul, kawasan Pecinan Semarang, sejak sekitar 1980 silam. Minuman fermentasi tradisional ini, menjadi legenda di tengah kehidupan masyarakat kota.

Mirip seperti fungsi whisky, Congyang rasanya cocok ditenggak di hari yang dingin. Ketika dicoba, rasa Congyang manis di awal dan kecut di ujung, akibat fermentasi beras yang menjadi bahan utamanya. Sampai di perut, minuman ini terasa menghangatkan tubuh.

“Kemudian di barat, budaya minum-minum ini bagian untuk penghangat saat musim dingin. Sementara kita, minum pada saat musim panas, ini bisa meningkatkan tekanan darah, kerusakan jantung kalau minumnya tidak dikadar atau ditakar,” tutup dia. (Wan/JT02)