JawaTengah.Online – Terdapat sejumlah mitos malam satu Suro bagi orang Jawa, sehingga sebagian masyarakat dilekatkan dengan malam yang sakral atau keramat. Termasuk di Kota Semarang, ada satu tempat sakral dan mistis yang menjadi tempat bertapa atau mengalap berkah saat malam satu Suro.

Tempat itu dinamai Tugu Suharto, terletak di Muara Kaligarang, Kecamaran Gajahmungkur, Kota Semarang. Nama yang akrab sebagai Presiden RI ke-2 itu merupakan bangunan sebuh tugu yang menjulang diantara dua pertemuan arus Sungai Ungaran dan Sungai Kreo.

Bila diamati secara kasat mata, ke dua sungai itu seperti bertemu dan menyatu di muara Sungai Kaligarang Semarang. Sehingga, dipercayai warga memiliki tuah bagi siapa saja yang mau berendam pada malam satu Suro di bawah Tugu Suharto.

“Kenapa mandi di sana (Tugu Suharto), karena ada sumber pertemuan dua sungai (Ungaran dan Gunung Pati atau Goa Kreo). Sudah jadi salah satu kepercayaan orang Jawa juga, selain mencari sumber sumur tujuh,” kata sesepuh di Kelurahan Bendan Duwur, Sukarno, saat di temui di rumahnya, Kamis (28/7/2022). 

Sukarno menuturkan, air yang ada di Kaligarang atau sekitar Tugu Suharto itu juga memiliki dua macam rasa. Yakni sumber dari Sungai Ungaran memiliki rasa dingin sedangkan Goa Kreo memiliki rasa hangat. 

“Makanya kalau ada yang mandi di situ (Tugu Suharto), bisa tahan semalaman. Karena kalau kedinginan geser ke yang hangat, terus geser lagi ke yang dingin kalau panas. Jadi enggak masuk angin kalau berendam sampai pagi,” pungkas pria berusia 74 tahun itu. 

Tak hanya itu, sejumlah masyarakat bahkan percaya jika berendam di Tugu Suharto bisa mendatangkan berkah. Pasalnya, banyak cerita-cerita dari masyarakat yang menyebut hal serupa.

“Jadi banyak penuturan yang berendam, tirakat di situ terus berhasil (sukses),” beber dia. 

Terkait apakah ada syarat-syarat khusus yang diperlukan untuk mandi di Tugu Suharto, Sukarno menyebut hanya kembang dan menyan. Kembang bertujuan sebagai perantara komunikasi. 

“Itu kembang, memang seringnya dikira untuk makani setan (hantu). Tapi tergantung kepercayaan saja. Sebenarnya, itu (kembang) untuk pelantara komunikasi, buat pelantara,” tutup dia.

Sekadar informasi, berdasarkan berbagai cerita masyarakat, Tugu Soeharto didirikan oleh Romo Diyat, yakni pengikut kejawen Kolonel Suharto saat menjabat Pangdam Diponegoro tahun 1956-1960. Romo Diyat juga termasuk guru spiritual kejawen ternama di Semarang yang menjadi pembimbing Soeharto semenjak masa muda hingga mencapai puncak kariernya. 

Tugu Suharto sendiri dibuat pada 30-9-1965 / 1-10-1965, pemilihan lokasi di muara Kali Garang karena memang pertemuan dua kali tersebut menjadi tempat aktivitas ritual kungkum para pengikut Romo Diyat, termasuk Soeharto di tahun 50an.

Kemudian pada malam satu Suro, masyarakat Jawa akan melakukan ritual wajib berupa menjamas benda-benda pusaka. Bahkan, ada yang melakukan laku puter benteng di kota-kota Jawa yang masih memiliki keraton dan yang melakukan tapa kungkum atau berendam semalaman di tempuran kali atau titik pertemuan antara dua sungai. (Wan/JT02)