JawaTengah.Online – Sejak 1998 terdapat beberapa dusun atau dukuh yang tenggelam antara lain Dukuh Tambaksari, Senik, Bedono, Mondoliko di Desa Bedono, Kecamatan Sayung. Fenomena itu, akibat abrasi yang dialami warga desa mengakibatkan hilangnya sebagian besar mata pencaharian mereka. 


Warga Desa Timbulsloko, Soryadi mengatakan, desa-desa di kawasan pesisir Demak itu, mulai tenggelam karena abrasi akibat masifnya pembangunan infrastruktur dan industri sejak 1997.  Kemudian, menyusul Dukuh Timbulsloko, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung sudah tenggelam karena abrasi sejak tahun 2010. 

Tak sampai disitu, kawasan pesisir lainnya seperti Kecamatan Bonang dan Wedung pun terancam tenggelam karena air rob semakin tinggi kian hari. Sehingga, masyarakat pesisir Demak yang didominasi oleh petani, nelayan dan petambak, kini memilih alih profesi menjadi buruh bangunan, pabrik, dan lain sebagainya. 

“Lahan yang tenggelam kemudian dibeli oleh oknum dengan harga yang sangat rendah. Rp 2 ribu – Rp 4 ribu per meter saja, informasinya lahan tersebut sudah punya asing. Akses kami semakin sempit dan sulit untuk beraktifitas,” kata Soryadi.

Lebih lanjut, pemerintah seolah menutup mata atas nasib warga pesisir Demak yang terdampak abrasi. Hak masyarakat untuk hidup layak dan pemulihan kondisi desa malah tidak menjadi perhatian. 

Bagaimana tidak, pembangunan kawasan industri dan pembangunan jalan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak terus berjalan, bahkan dikebut. 

“Beberapa dari kami akhirnya memilih bedol desa secara mandiri. Ada yang kos, kontrak rumah bagi yang punya biaya. Ada juga yang ikut keluraga di luar desa,” lanjut dia. 

Sekitar 220 kepala keluarga (KK) yang masih menghuni Dukuh Timbulsloko memilih bertahan dan beradaptasi. Mereka melakukan swadaya gotong royong dengan meninggikan rumah dan jalan jembatan dari kayu untuk membantu aktifitas sehari-hari. 

“Sebelum melakukan adaptasi, kondisi tempat tinggal kami tenggelam seperti kampung mati karena jarang yang keluar rumah. Tidak ada perhatian dari pemerintah untuk mempermudah warga agar bisa bertahan hidup,” beber dia. 

Senada, Zainudin menambahkan , dukuh Mondoliko terisolir dari semua akses jalan saat ini, bahkan terputus dari semua akses jalan dan jembatan. Kondisi ini, menjadikannya sebagai dukuh terpencil yang terisolir di tengah kepungan laut. 

“Ada sekitar 65 KK. Warga meminta bedol desa oleh pemerintah, namun Pemda Demak hanya bisa memfasilitasi pembangunan rumah bagi warga yang sudah punya lahan bersertifikat,” imbuh Zaidun. 

Tentu saja, persyaratan tersebut menyulitkan warga Dukuh Mondoliko karena rata-rata warga Mondoliko belum memiliki lahan yang siap untuk mereka bangun. Padahal, warga sudah menderita selama 20 tahun di tengah kepungan abrasi. (Wan/JT02)