JawaTengah.Online – Para pengunjung nantinya wajib menggunakan upanat saat naik ke atas bangunan candi Borobudur. Langkah ini, menjadi salah satu upaya pelestarian dan konservasi Candi selain persoalan kuota wisatawan. 

Sebagai informasi, upanat adalah sandal khusus yang digunakan untuk menaiki struktur Candi Borobudur sebagai upaya meminimalisir terjadinya keausan batu tangga. Pemilihan kata upanat, memiliki arti alas kaki  yang merupakan aktualisasi dari Relief Karmawibhangga panel 150 pada Candi Borobudur. 

Pengkaji Pelestari Balai Konservasi Borobudur, Brahmantara menuturkan, uji coba sandal Upanat sudah melakukan sebuah kajian mengenai sandal khusus. Tujuannya, untuk mendapatkan prototipe alas kaki (sandal) yang memenuhi kriteria durability, ergonomi, dan keselarasan visual (DEKS).

“Metode penelitian kajian dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap uji laboratorium untuk melakukan uji terhadap beberapa sampel material alas kaki dan tahap pembuatan sandal khusus,” kata Brahmantara, Kamis (9/6/2022).

Brahmantara menjelaskan, pihaknya awalnya mendesain beberapa bentuk. Setelah melalui beberapa literasi bentuk, ternyata ada relief di Candi Borobudur.
“Maka bentuk sandal ini sama dengan bentuk di panel 150 dan disebut sebagai upanat yang berarti alas kaki,” jelas dia. 

Pembuatan sandal khusus ini juga melibatkan warga desa sekitar Candi Borobudur. Sebagai upaya meningkatkan partisipasi masyarakat melalui pemberdayaan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) lokal. 

Upanat terbuat dari anyaman daun pandan ini, berpengaruh mencegah peningkatan tingkat keausan batu candi khususnya pada bagian batu tangga dan batu lantai. 
Kemudian, dari hasil uji gesekan diketahui bahwa jenis material bahan spon ati, mempunyai dampak keausan yang rendah.

Uji coba penggunaan upanat juga sempat dilakukan di depan pintu gerbang zona satu (gerbang timur) Candi Borobudur. Hal ini untuk mengurangi dampak keausan batu candi akibat gesekan alas kaki pengunjung.

Dari dari perspektif nilai histori dan filosofi, penggunaan alas kaki khusus upanat tidak hanya bermanfaat dalam upaya meminimalisir keausan. Namun juga sebagai media edukasi pelestarian kepada pengunjung. Selain itu, sandal ini juga merupakan program pelestarian berbasis pemberdayaan masyarakat yang dibuat oleh pengrajin di kawasan Candi Borobudur. (Wan/JT02)