JawaTengah.Online – Sebanyak 30 orang berpakaian kebaya dengan berbagai jenis namun masih dalam kesatuan warna hitam, terlihat disatu ruangan lantai dua Vina House Restoran Semarang, Sabtu (25/6/2022). Mereka tak lain adalah Komunitas Diajeng Semarang (KDS), sekumpulan pecinta kebaya dan batik yang giat mengampanyekan pemakaianya dalam aktivitas keseharian.

Meski usia mereka tergolong sudah tak muda, namun kelihaian memeragakan kebaya dengan lilitan jarik membuat 30 perempuan itu nampak begitu anggun. Mereka, nampak membentangkan kain jarik bermotif batik sembari berbagi pengetahuan mengenai cara berjejarik tanpa ribet antara satu sama lain.

Dengan dipandu olef Founder KDS, Maya Dewi, mereka saling berbagi ilmu tentang bagaimana mengenakan kain jarik dan kebaya dengan singkat dan mudah, namun elegan. Terbukti, kurang dari sepuluh menit tiga cara lilik jarik telah diperagakan oleh komunitas tersebut.

Tak hanya itu, mereka juga diajarkan bagaimana bersolek agar wajahnya menjadi lebih cantik melalui hasil make up sendiri. Kemudian, dengan penuh percaya diri mereka silih berganti memeragakan penampilan masing-masing dengan cara lilitan tersendiri.

“Jadi hari ini, sebenarnya anggota lama atau senior memberikan pengetahuan kepada para member baru tentang cara memakai jarik lilit tanpa ribet. Intinya simpel, supaya para Diajeng ini semangat memakai kebaya dan jarik, sebagai bentuk melestarikan kebudayaan,” kata Maya, seusai acara Kebaya Ghetering, Sabtu (25/6/2022).

Maya menerangkan, kali ini ada tiga cara lilitan yang diajarkan kepada para member baru, yaitu lilit gaya samping, gaya grapari dan gaya model merak. Ketiga gaya tersebut, sudah mengkombinasikan pilihan simpel namun masih tampak modis.

“Kemudian kenapa hal ini dilakukan, karena salah satu gerakan komunitas kami itu adalah nguri-nguri busana adat Jawa. Salah satunya kebaya dan jarik. Selain itu untuk mengingatkan kembali kepada komunitas, khususnya member baru, jika visi misi komunitas ini adalah perempuan pelestari budaya. Bukan hal lain seperti arisan, sosialita,” terang dia.

Selain itu, imbuh Maya, bagi para wanita yang ingin terjun atau menggerakan nguri-nguri budaya, start awal harus dimulai dari cinta budaya. Termasuk cinta dan turut melestarikan kebudayaan lokal Semarang.

“Itu (kecintaan budaya) yang harus dimiliki. Kami disini ingin mengangkat kembali kebiasaan berkebaya,” imbuh dia.

Sebagai informasi, dalam kegiatan kebaya gethering ini sedikitnya ada tiga model kebaya yang nampak dengan perpaduan tiga cara lilitan jarik tersebut. Antaranya ada kebaya Bali Kutu, Baru Encin dan Tangkeban Bludru.

“Jenis jarik dan kebaya hari ini memang dresscodenya warna hitam. Terus ada berbagai motif juga hari ini,” tutup dia. (Wan/JT02)