JawaTengah.Online – Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dalam catatan penelitianya, menyampaikan jika pada 2019 bahasa daerah di Jateng yakni bahasa Jawa mengalami kemunduran. Sebab, meski penuturnya masih banyak namun kondisi saat ini dinilai semakin rentan. 

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jateng, Ganjar Harimansyah, mengatakan adanya program revitalisais bahasa daerah ini bertujuan untuk melestarikan penggunaan bahasa daerah serta mencegah kepunahan bahasa jawa. Selain itu, program ini juga merupakan program Merdeka Belajar episode ke-17 mengenai upaya revitalisasi bahasa daerah. 

“Fenomena saat ini, penuturnya banyak, tapi kondisi rentan. Artinya banyak ranah penggunaan bahasa jawa yang hilang. Salah satunya rumah tangga, digenerasi kedua kita ada bebrpa anak usia remaja yang sudah mulai tidak menggunakan bahasa jawa di rumahnya sendiri,” kata Ganjar, seusai Rapat Koordinasi Pakar, Calon Pengajar dan Pemerintah Daerah Se-Provinsi Jawa Tengah, Kamis (23/6/2022).

Tujuan dari revitalisasi bahasa daerah ini, jelas Ganjar, agar para penutur muda dapat menjadi penutur aktif bahasa daerah. Pasalnya, revitalisasi ini dinilai penting sebagai upaya menjaga keberagaman bahasa daerah di Indonesia. 

“Kemudian hari ini rapat koordinasi pakar dan pemerintah daerah. Sebelum melakukan pelatihan pada guru bahasa jaw, kami lakuka dulu rakor pakar yang nantinya akan mengajar pada guru-guru bahasa jawa. Sedangkan rapat kordinasi dengan Pemda, karena bagaimana pun, pemerinth daerah yang berperan dalam perlindungan bahasa daerah ini,” jelas dia. 

Terkait tantangan yang akan dihadapi selama mengimplementasikan program revitalisasi bahasa daerah ini, Ganjar menyebut cukup kompleks. Tak hanya regulasi, para pengajar pun dinilai mempengaruhi. 

“Pertama regulasi, meski Pergub (peraturan gubernur), Perda (peraturan daerah) banyak mendukung, tapi jam pelajaran hanya 2 jam. Kedua guru mata pelajaranya, latar pendidikanya bukan  bahasa Jawa,” beber dia. 

Sehingga salah satu upaya Balai Bahasa merevitalisasi permasalahan tersebut yakni dengan mengungatkan pembelajaran bahasa di sekolah. Pasalnya, di Jateng pengimplementasianya sudah berbasis sekolah. 

Sebagai informasi, catatan penelitian bahasa Jawa yang mengalami kemunduran atau kerentanan itu berdasarkan survei di delapan kabupaten atau kota. Khususnya, daerah-daerah perbatasan dengan Jawa Barat dan Jawa Timur. 

“Kondisi rentan ini, artinya 10-20 tahun mendatang akan terus mengalami kemunduran. Kemudian penutur mudanya akan terus berkurang. Kalau tidak ada pemeliharaan atau upaya, dalam 20 tahun sangat mungkin akan terancam punah. Jadi meski orang jaaa ada, tapi apakah bahasanya tetap digunakan dalam ranah keluarga atau percakapan sehari-hari?,” tutup dia. (Wan/JT02)