JawaTengah.Online – Pengawasan terhadap puluhan ritel dalam rangka intensifikasi pengawasan pangan menjelang Hari Raya Idul Fitri mulai dilakukan. Dari total 67 yang diperiksa, sebanyak 32 (47 persen) sarana tidak memenuhi ketentuan (TMK).

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Semarang, Dra Sandra M.P Linthin, mengatakan sebayak 104 item produk dengan total jumlah produk TMK ada 585 buah. Terdiri dari 83 rusak, 141 expired (ED) dan 362 tanpa izin edar (TIE).

“Terbanyak adalah pangan tanpa ijin edar (362). Lebih banyak bahan tambahan maknanan bukan produk jadi, misal ovaled yang biasa dipakai buat kue, terus ada pewarna dan monosodium glutamate atau micin,” kata Sandra, usai mengecek sempel takjil di Jalan Pahlawan, Jumat (22/4/2022).

Sedangkan kemasan yang rusak, lanjut Sandra, semua temuan yang telah didapati sudah dimusnahkan. Terbanyak adalah susu kaleng, sarden dan buah kaleng.

“Kemudian expired masih sama dari tahun ke tahun, jenis makanan ringan atau snak, terus saus juga,” lanjut dia.

Lebih jauh, pihaknya juga melakukan sampling di daerah yang banyak menjual makanan takjil di tempat keramaian tiap kabupaten atau kota. Dari pengecekan itu, disebutkan tujuh sampel positif mengandung bahan berbahaya, yaitu empat sampel positif rhodamin B dan tiga sampel positif formalin. 

“Produk pangan yang positif rhodamin B ada krupuk, es kelapa dan bolu pelangi. Sedangkan positif formalin itu seperti mie pada bakso, ikan teri yang ditambahkan pada botok (olahan dari kelapa),” pungkas dia.

Disinggung mengenai dampak bahan berhahaya tersebut kepada kesehatan, Sandra menyebut efek yang ditimbulkan tidak akan nampak secara spontan. Namun, dapat muncul setelah empat tahun berjalan apabila dikomsumsi secara berlebihan.

“Dampak kepada kesehatan bisa ke organ pencernaan, ginja, hepar bisa terganggu., bahkan bisa sampai menyebabkan kangker juga,” terang dia.

Sebagai informasi, insentif pengecekan ini telah dilakukan dari 28 Maret dan akan terus belanjut hingga satu pekan usai hari raya Idul Fitri. Diharapkan, kualitas pangan olahan yang beredar di tingkat distributor atau supermarket maupun jenis pangan takjil lainya menunjukan kualitas yang terus meningkat dari tahun ke tahun. (Wan/jt02)