JawaTengah.Online – Jauh dari pemukiman warga, terdapat makam korban pembantaian massal 1956 di tengah hutan jati di Kampung Plumbon, Wonosari, Kecamatan Ngalian, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Diprakirakan, ada 12 hingga 24 orang yang dibunuh secara paksa dan salah satunya dikubur hidup-hidup.

Lokasinya yang berada di tengah hutan, membuat makam tersebut sulit diakses menggunakan kendaraan. Selain itu, tak ada penanda di jalan yang menunjukan bahwa ada kuburan massal di hutan jati milik PT Perhutani itu.

Saat melihat lebih dekat, bahkan tak ditemukan satu pun batu nisan yang menggambarkan siapa puluhan korban itu. Hanya ada sebuah monumen yang berdiri tegak di tengah hutan yang tertulis delapan nama, namun saat ini, nama-nama di monumen tersebut tak lagi terlihat. Area makam juga terlihat penuh daun yang berguguran hingga menutupi dua makam berbentuk lingkaran di samping kanan dan kiri monumen.

“Itu (nama-nama yang tertulis pada monumen) korban pembunuhan massal. Mereka dibunuh disana (hutan tersebut) karena dicurigai PKI (Partai Komunis Indonesia). Sebenarnya ada 24-an orang, tapi yang diketahui (identitasnya) hanya delapan (tertulis dalam monumen),” kata Ketua RT7/RW3 Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Gunawan (50), saat ditemui, Kamis (25/8/2022).

Gunawan menambahkan, hingga saat ini masih ada salah satu pihak keluarga korban pembantaian di makam tersebut yang rutin berziarah. Yakni keluarga Moetiah, salah seorang korban pembantaian 1965. “Tapi sebelum 2015, dia (keluarga Bu Moetiah datangnya sembunyi-sembunyi. Setelah ini terungkap baru berani. Biasanya (ziarah) malam Jumat Kliwon,” imbuh dia.

Gunawan pun tak menampik bila sebelum monumen itu dibangun pada 2015, makam tersebut sering kali dianggap keramat. Pasalnya, tak jarang ada orang yang berkunjung ke makam tersebut hanya untuk sekadar mencari peruntungan nomor togel. “Sampai saat ini masih ada (mencari nomor togel di sana). Tapi kebanyakan orang luar yang mencari. Mereka ada yang cuma bawa kopo, kemenyan, sigatet (rokom). Terus duduk disana malem-malem, nunggu nomor (togel),” beber dia. 

Sekadar informasi, meski sudah usang dan sulit terbaca, delapan nama yang tertulis dalam monumen tersebut yakni Moetiah, Soesatjo, Darsono, Sachroni, Joesoef, Soekandar, Doelkhamid dan Soerono. Makam tersebut kini juga menjadi salah satu situs yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pengingat tindak kejahatan hak asasi manusia (HAM). (Wan/JT02)